Featured

Hello

Semacam menuangkan apa saja yang ada di pikiran.
ada curhatan, hasil melihat lingkungan, apa yang dirasa, dan apa yang dipikirkan
kebanyakan tulisannya diketik saat berada di kamar
Nulisnya ada di tanggal, tapi postingnya entah kapan, pasti beda tanggalnya 😀

Feel free to judge me, and please do judge me if you want, because I don’t care
Just don’t sue me.

– Ryan

ini Blog Saya Juga by the way

Rindu, Adil, dan Payung

Rongga perut kita mampu berbunga-bunga pada sebuah pertemuan, tapi ia hadir bersama satu hal lainnya. Serupa sekeping koin yang memiliki dua sisi. Hanya satu muka yang mau kita hadapi. Muka lainnya, kita simpan menghadap lantai dan suatu saat koin itu bisa terbalik dengan sendirinya.

Rindu

                Sebuah kata. Terkesan cantik, anggun, dan menggoda. Tapi bila kata itu adalah bunga, maka ia serupa mawar beracun penuh duri. Bolehlah aku mengetahui kehadirannya. Tapi tidak pernah tersirat satu kali pun untuk mendekat, apalagi menggenggamnya. Sebab hanya perih yang akan menimpa.

                Oci, bapak rindu.

                Hanya sekitar setahun saja waktu kita. Dan hanya masuk bulan ke-enam akhirnya anganmu terwujud: menjadi makhluk dalam ruangan. Sudah berkali-kali kamu berusaha merengsek masuk ketika pintu terbuka. Tapi kami merasa belum saatnya. Selalu belum saatnya. Kami mengumbar janji, bila kelak mendapat rumah yang lebih lega, kamu akan ikut kami bawa untuk menjadi anggota keluarga kami, bersama dengan empat ekor anak lainnya.

                Dengan sikapmu, kamu berusaha meluluhkan hati kami. Menghampiri setiap kami baru saja tiba membuka pagar halaman. Terbangun dari tidur lelapmu, berlari, menyusul arah langkah kami memanjat tangga hingga rentan membuat kami tersandung. Kamu tidak peduli. Mungkin. Sebab yang kamu mau hanyalah turut masuk ke dalam rumah kami. Bila memang belum bisa, ada jatah disayang yang kamu tagih. Mengelus dahimu. Diseling dengan garuk kaki belakangmu pada lehermu. Kami pamit untuk berjumpa kamu lagi esok hari. Kamu membalas dengan mengeong yang kami deskripsikan sebuah falseto. “Iya”, kami menyimpulkan. Kemudian sejenak kamu makan dari mangkuk yang memang disediakan untuk kucing liar sepertimu untuk kemudian kamu kembali ke halaman rumah, menghadap ke luar untuk memantau siapapun yang berlalu lalang.

                Hingga pada satu musim kawin keduamu, keinginanmu tidak terbendung untuk menjadikan rumah kami sebagai tempat bersalinmu. Hampir saja kami menjadikan rumah kami tempatmu melahirkan tiga ekor anak-anak rupawan dan jelita. Untuk sementara kami hanya bisa menyediakan sebuah kotak kardus, dan kamu rela untuk masuk ke sana, mengantarkannya ke dunia.

                Bapak ingat, kamu sempat memanggil. Mungkin meminta untuk ditemani. Dikuatkan dalam upaya insting hewani mamalia. Kami bergantian menghampiri. Memeriksa keadaanmu dan bayi-bayimu yang satu per satu kamu mandikan dengan lidahmu. Membersihkannya dari air tuban serta darah dan badan-badan merah itu mulai menampilkan warna lain. Hingga rampung, kamu pun tampak lelah kala dini hari tiba. Angin dingin kamu halau dengan bulu-bulu panjang dan lebat.  

                Kelahiran kucing baru, selalu rentan dengan ancaman dari sesama kucing. Kucing jantan khususnya mengendus kehadiran kucing jantan cilik yang kelak bisa mengancam teritori mereka. Situasi itu pun pada akhirnya mengundang kucing jantan dewasa untuk mampir. Dengan segala kekuatan tersisa kamu mendesis, menampilkan taring, bersiap menerkam, agar tidak ada yang mengganggu anak-anak.

                Upaya itu berhasil. Tapi itu menyadarkan sesuatu dalam dirimu. Lokasi di luar kamar, bukanlah posisi paling aman yang bisa kamu jadikan tempatmu dan anak-anakmu. Sebab tak menemukan celah masuk ke dalam kamar kami, kamu membawa anak-anakmu pada kamar lain. Sayangnya kehadiranmu ditolak di kamar itu. Kami menjemputmu dan anak-anakmu untuk kembali menempati kotak yang masih tergeletak di depan pintu kamar kami. Kamu menolak. Berusaha mencari tempat lainnya untuk berlindung dari marabahaya.

                Pada akhirnya memang kami luluh. Sebuah kotak kardus baru, yang bisa menampung satu unit tv tabung ukuran 14 inci tiba. Itulah rumah barumu. Dan tidak lagi ada di muka pintu. Sekarang kamu sudah berhasil menjadi kucing indoor. Sebab kotak itu sengaja disediakan dan diletakkan di dalam kamar. Kamu sudah tidak waswas. Menyusui dengan khidmat. Keluar tanpa khawatir berlebihan untuk meninggalkan bayi-bayi itu sementara waktu.

                Menggeletakkan diri untuk beristirahat, menghampiri mangkuk makanan yang juga sudah berada di dalam, lalu ke toilet kapan pun kamu merasa mau.

                Seiring berjalan waktu, anak-anak itu mampu memanjat keluar kardus, memelajari dunia di sekitarnya. Mulai menyusu di luar kotak yang kian hari kian sempit untuk dihuni. Lalu kalian pun akhirnya bisa kami keluarkan dari kamar setiap malam. Memberi ruang pada keempat ekor anak terdahulu yang selalu sungkan untuk bergerak di rumahnya sendiri, sebab harus berhadapan dengan seekor ibu yang secara insting akan galak pada semua kucing lainnya.

                 Setiap siang kalian akan bermain di dalam, makan, dan tidur siang panjang. Lengkap dengan perilaku yang kami belum paham tapi selalu terjadi. Setiap kalian meminta masuk, sudah dibiarkan, lalu akan meminta keluar. Tapi bila malam waktunya kalian di luar, kalian akan merengek masuk. Sebuah warna yang terlukis selama lima bulan lebih itu terus terjalin.

                Kejadian-kejadian itu terbayang. Hanya bisa terbayang, sebab tidak akan lagi terjadi. Sebab hanya tersisa tiga anakmu saja bersama kami. Dan entah kenapa pertemuan singkat ini begitu mengangkat sebuah interior dalam batin bapak. Menjadikan satu sudut itu gamblang melompong di hari kedua setelah kepergianmu.

                Dan itulah rindu. Kata yang manis tapi membuat perutmu tersiksa saat menelannya. Sebuah kenyataan dari satu perasaan yang tak pernah siap bapak hadapi. Bahwa rindu hanya bisa terbalas oleh pertemuan. Tapi, pertemuan sudah kadung hilang bersama nyawamu.

                Bila sebelumnya sikap manjamu perlahan luntur seiring dengan dirimu yang menjadi seekor ibu. Tapi sekarang bapak merasa sangat manja untuk bertemu kamu lagi.

                Vonis dokter bahwa dirimu sudah pergi, menusuk rohani bapak perlahan dengan sangat dalam. Kami pulang membawa jasadmu yang sudah terbungkus.

                Setibanya kita di rumah, kami memberi tahu anak-anakmu. Untuk sejenak jantan-jantanmu, Gendut dan Muci menempeli jasadmu. Tebi ikut membersamai di belakang. Untuk terakhir kalinya kamu semeja berempat. Pemandangan yang tidak mungkin tidak menghancurkan hati kami.

Adil

                Apakah hidup itu adil? Pertanyaan saja. Aku tidak mau mencoba membersamai dengan upaya jawab.

                Adil rasa-rasanya tidak pernah terwujud utuh selain dari usaha menujunya. Teruntuk setiap manusia biasa adil adalah cita-cita utopia. Mungkin dari anak-anak bulu yang hadir menemani kami, kamu bukanlah favorit bapak. Dan itu tidak bisa dielakkan. Sebab bapak manusia biasa, dan rasa sayang itu tidak bisa dibagi secara rata bobotnya.

                Tetap, kamu mengambil peran untuk menghiasi hidup kami. Dan itu sangat nyata bapak rasakan. Memang betul apa yang berarti baru akan dimaknai betul bila sudah tidak ada hadirnya.

                Lalu, adil, apakah sakit yang bapak alami kini sama perihnya dengan apa yang kamu alami di penghujung hidupmu? Bila bapak hanya mengeluh tentang sakit ini, adilkah sikap bapak kepadamu selama kamu hadir? Bisakah bapak yang mengambil sakit itu sebelum kamu tiada? Biar kamu bisa pergi dengan nyaman dan tenang?

                Andai bapak tahu tanda-tanda pamit itu, bapak akan meminta hal tersebut.

                Andai. Jauh panggang dari api. Begitu jelas jarak nyata dan mimpi terkait andai.

                Lalu apakah adil kamu pergi secepat itu, setelah membawakan kami anak-anak yang begitu menggemaskan.

                Oci, orange cat indoor. Kamu tahu tidak anak-anakmu sekarang gemar sekali menggigiti kaki bapak yang terbungkus selimut di malam hari? Si Gendut begitu setia untuk menemani aktivitas bapak. Si Muci         kini mewarisi manjamu untuk disayang, dan Si Tebi, selalu datang setiap bapak menangis teringat padamu.

                Adil tidak bisa diberi, sedang apa yang bapak terima begitu bertubi-tubi dari anak-anakmu. Bapak tidak tahu apakah kamu menitipi anak-anak itu kepada kami atau justru kamu yang sempat-sempatnya menitipi anak-anak ini untuk mengurusi kami.

                Apakah adil, janji bahwa kamu akan ikut bersama kami di rumah baru, sedangkan kamu sudah terbenam dalam tanah jauh sebelum kita pindah.

                Adil hanyalah angan, dan yang nyata adalah permintaan maaf bahwa semuanya tak sempat. Adil juga ternyata dipotong oleh waktu dan usia.

                Mencoba menerima bahwa usia setiap makhluk berbeda-beda. Dan bagi bapak, adil saat ini untuk kita adalah, mencoba menerima kenyataan atas satu sudut ruang batin yang runtuh. Mencoba membiarkan Oci terlelap dalam tidur yang panjang. Tanpa diseling dengan juluran lidah yang terjadi saat mandi atau menghabiskan jatah makan yang tersedia di rumah. Tanpa perlu repot memandikan anak-anakmu lagi. Tanpa perlu harus terganggu jika kamu sedang ingin sendiri tapi, anak-anak itu masih ingin menyusu.

                Dan bapak tahu ini tidak adil lagi, tapi bapak mungkin meminta Oci untuk sesekali datang ke mimpi bapak. Datang tiba-tiba dari entah seperti saat bapak dan ibu baru tiba di rumah. Berjalan di samping kaki bapak, menyusul langkah kaki hingga di depan pintu. Lalu nanti, jangan lupa meminta jatah untuk bapak dan ibu sayang-sayang dengan belaian di bagian atas kepalamu itu. Besoknya kita bertemu lagi. Besoknya bertemu lagi. Besoknya kamu menggelar badan menghadap ke jalan, menyaksikan dunia berputar sambil dibelai angin sejuk dari rumah yang rimbun ini. Besoknya kamu menyambut lagi kepulangan kami. Besoknya kamu meminta makan lagi. Besoknya kamu menjenguk anak-anakmu. Besoknya kamu meminta keluar rumah untuk sedikit olah raga. Besoknya kamu akan mendorong pintu yang tidak terkunci hingga terbuka. Besoknya kamu menyambut kami yang baru membuka pintu saat pagi hari. Besoknya kamu duduk di satu ketinggian dan memantau kegiatan bermain anak-anakmu. Besoknya kamu akan minum air sangat banyak dan lama untuk meredakan dahagamu. Besoknya kamu akan berusaha membersihkan punggungmu dengan susah payah karena gendutmu. Hingga besok tidak pernah ada habisnya.

                Sangat tidak adil, untuk meminta banyak hal darimu yang layak mendapat istirahat panjang. Kelak kita bertemu lagi, Oci. Bapak sayang Oci.

Payung

                Fungsi paling utama adalah melindungi penggunanya dari hujan dan sengatan terik matahari. Bersamaan dengan payung yang dikembangkan, adapula bayangan melebar menaungi. Tapi dalam ilmu alam tidak pernah disebutkan bayangan apa yang hadir itu. Atau setidaknya tidak lengkap.

                Bahwa dari payung yang dikembangkan itu terdapat bayangan kemuraman. Tidak mampu menghalau deras air mata yang tumpah bukan dari arah luar. Maka payung itu pun tak punya daya untuk melindungi penggunanya dari basah yang berulang kali diseka hingga kering untuk kemudian basah lagi.

                Bila hitung-hitungan tidak meleset, Oci berusia kisaran dua tahun. Bisa dianggap ekuivalen dengan usia dewasa muda dari manusia. Terlalu muda untuk berlalu. Bagi anak-anakmu, dan tentunya untuk bapak.

                Mudah-mudahan untukmu payung berupa rindang sebatang pohon dan gedung berlantai dua membuat istirahatmu sejuk. Menghalau kepanasan yang selalu membuat dirimu tidak nyaman. Di cuaca yang membuat bapak berkeringat hebat, Oci selalu mencari titik lantai yang dingin atau tidur di tempat yang bisa terhembuskan angin lembut.

                Semoga kamar Oci sekarang sesuai dengan apa yang selalu Oci cari.

                Bapak tidak sanggup mengucap selamat tinggal. Bapak kembangkan payung ini sampai bapak siap menyambut lagi langit terbuka. Apapun cuacanya. Saat terang, ataupun hujan yang suka membuatmu datang di depan pintu dengan bulu-bulu panjang putih bercorak kuning yang basah. Dan payung yang berbeda akan bapak gunakan untuk menjaga anak-anak Oci.

Pagi Lapar

Bangun tidur badan tidak enak. Sakit-sakit. Salah tidur. Aku tidur di atas jam 12 malam. Memang itu tidak seharusnya. Akan lebih baik bila kita tidur di atas kasur.

Kalau bangun tidur menjadi waktu mengeluh, ada saran dari seseorang yang mengatakan lebih baik tidak bangun saja. Aku tidak setuju. Lebih baik bangun usaha. Selain mendapatkan badan yang dirasa tidak enak, tapi juga dapat untung, dapat uang. Tapi itu kan kalau berhasil. Kalau gagal bagaimana? Ya, namanya juga usaha. Kita harus yakin dulu saja. Yakin kalau kita bisa. Masalahnya adalah bisanya itu bisa iya, bisa tidak.

Bangun tidur seharusnya diisi oleh rasa syukur katanya. Bahwa kita masih diberi anugerah berupa umur untuk terus hidup. Daripada kita merutuki gelap lebih baik kita menyalakan lilin dan ngider dari rumah ke rumah. Sayangnya juga bukan itu yang aku lakukan semalam.

Lanjut aku bangkit dari kasur menuju dapur dan sumur. Oh, tidak. Aku bukan wanita yang terdampak patriarki. Aku ke dapur lupa untuk apa. Maklum konsentrasi belum terbawa ke alam sadar. Dia masih bersama Alam Mbah Dukun. Lalu aku menuju sumur. Di sana terdapat jamban. Ini aku ingat akan melakukan apa karena ritual pagi adalah mengosongkan kantung kemih. Buang air lah aku. Buang air keras. Buang air dalam posisi keras.

Beres dari sana aku kembali ke dapur. Mencari sesuatu yang bisa dikunyah. Barangkali ada roti. Sayang, rotinya sobek. Tidak bisa aku perbaiki. Tidak ada solasi. Roti tawar pun tidak bisa aku nikmati karena kami tidak sepakat atas harga. Perutku keroncongan. Oh, bukan dari perutku. Keroncongan dari rumah tetangga. Dia menyalakan lagu kencang sekali.

Bangun dalam keadaan sakit badan, tidak bisa sarapan, dan suara musik yang sangat keras ini melengkapi sambutan yang diberikan pagi padaku. Ini rasanya seperti sudah jatuh tertimpa tangga darurat. Darurat sekali keadaan ini.

Aku tidak bisa hanya pasrah dan berdiam diri di rumah. Aku harus beranjak keluar mencari makanan untuk menenangkan perutku yang demonstrasi. Butuh yang hangat-hangat. Bertemulah aku dengan pedagang kue basah di pasar. Pedagangnya yang basah. Akibat hujan shubuh tadi katanya. Terlalu pulas aku tidur hingga tidak sadar bahwa pagi diiringi oleh hujan. Mungkin udara dan suara air yang mengetuk genting justru menambah nyenyak tidurku.

“Beli… Beli…”

“Saya bukan orang Bali. Panggil saja saya, Pak,” begitu respon dari pedagang tersebut.

Hebat juga pedagang ini. Dalam keadaan tubuh basah dan berdagang, dirinya masih bisa bercanda. Tapi itu tidak seberapa dibanding seorang kenalanku. Dia sambil berdagang masih bisa bercandi walau dia tidak sempat hidup di zaman Rorojongrang.

Aku keluarkan uang lima ribu, menanyakan bisa dapat apa dengan uang selembar ini.

“Pisang molen satu, sama parkir saja paling”

Sialan. Sudah jauh-jauh pergi dari rumah aku hanya mendapatkan satu barang untuk aku makan. Belum kopi. Salah sendiri aku membawa motor pergi ke sini. Salah sendiri aku hanya bawa uang selembar saja. Kalau tahu di sini harus bayar parkir, lebih baik baik aku parkur saja. Sekalian olah raga. Sepertinya sialku ini belum bisa bertemu ujungnya. Ujung-ujungnya apa yang aku cari bertemu juga dengan sial.

Sial, aku lupa membawa/mengenakan syal. Udara dingin pagi ini masih menusuk. Aku menggigil. Aku gosok-gosokan tanganku mencoba mencari hangat. Tapi apa yang aku dapatkan? Ternyata muncul tulisan ‘Anda kurang beruntung. Coba lagi, ya,’ Sebab tidak kunjung mendapatkan untung, aku coba berpasrah.

Uang lima ribu yang tadi sempat aku upayakan untuk mengisi perut aku sedekahkan saja pada seorang pengemis. Katanya, dengan sedekah, rejeki kita akan berlipat ganda. Tidak tahu sih ya. Kalau tidak tulus tapi katanya rejeki bisa menjadi lipatan saja. Tidak berganda. Yang ganda hanya standar motorku. Setelah diatur posisinya oleh seorang juru parkir.

Aku lupa kalau aku pulang harus membayar uang parkir. Aku sudah tidak memiliki uang sama sekali. Belum juga beranjak lima meter dari aku sedekah, aku seperti tertimpa sial lagi. Aku coba sampaikan kondisi apa yang sedang aku alami dengan Baik. Baik adalah nama yang tertera di rompi juru parkir tersebut. Bapak itu baik. Bapak Baik tampak tidak baik-baik mendengarkan ceritaku. Wajahnya menekuk. Aku tidak tahu apakah memang itu bawaannya atau memang dia seorang penekuk. Penekuk yang dituangkan madu dan mentega di atasnya. Tapi aku dan dia tidak bisa apa-apa selain merelakan satu sama lain. Aku berjanji akan membayarnya lebih ketika kembali lagi jumpa dengannya. Aku pamit dengan baik kepada Baik.

Dengan hiruk pikuk pagi, aku pun mencium aroma berbagai kuliner sarapan yang dijajakan sepanjang perjalanan pulang. Aku cium secara seksama mereka semua. Menyatakan bahwa kita tidak bisa bersama saat ini. Mungkin lain waktu bila kita berjodoh, kita akan berjumpa dan saling menikmati. Air mata menitik atas pertemuan singkat nan haru tersebut. Ini memang harus adanya.

Sesampainya aku di rumah, aku menutup pintu rumah dari dalam dengan lesu. Apakah nasib manusia seperti ini hanya menimpaku semata? Ataukah orang lain juga ada yang mengalami hal serupa denganku? Sehingga nasib ini tidak menimpaku semata, melainkan sehidung, semulut, sekuping.

Lunglai langkah kakiku menuju dapur. Duduk di kursi makan yang terbuat dari plastik. Tak terduga, aku menduduki sebuah roti isi. Menduduki roti sekaligus menduduki isinya. Isinya adalah warga asli sekitar yang sudah hidup di sana bertahun-tahun. Aku berharap bahwa roti itu bisa berisi strawberi, beri aku makanan pengisi perut di pagi hari. Namun nyatanya yang dia beri adalah pelajaran hidup. Bahwa semua tidak selalu sesuai dengan keinginan kita. Tapi ini bukan keinginan! Makan bukan sebuah keinginan. Makan adalah kebutuhan.

Dan makan itu sebetulnya adalah sebuah objek atau predikat. Ketika kita bilang ‘cari makan’ adalah sebuah frasa berisi predikat dan predikat. Tidak pernah aku mendengar ada frasa berbunyi ‘cari belanja’, ‘cari belajar’. Bila ada pun rasanya canggung terdengar di telinga. Makan adalah sebuah verba. Lucu juga kalau dipikir-pikir.

Masih ada aku tenaga berpikir-pikir, ketika perut lapar kalau dirasa-rasa. Ah, seharusnya aku jangan merasa-rasa. Aku jadi teringat lapar. Ah, sial. Dalam kondisi perut begini aku justru mengendus aroma makanan yang lain. Aku menghirup aroma bawang goreng yang sangat sedap. Aku tersedu. Dan mungkin seduhan teh manis bisa menghibur hati dan perutku barang sementara.

Tuk… tuk… tuk…

Seorang tetangga mengetuk pintu rumahku. Aku hampiri dia di pintu. Dia memegang kotak dus nasi di tangannya. Katanya ini untukku. Kebetulan di rumahnya sedang ada syukuran. Aku ikut bersyukur atas acara yang hendak dia adakan. Aku peluk tetanggaku dengan erat. Ketika pelukan belum aku rasa cukup, suara riak air hinggap di telinga. Aku sedang memasak air! Aku terburu-buru masuk ke dapur, mematikan kompor yang sudah dibasahi gejolak air mendidih. Tidak hanya di kompor, air itu sudah sampai di ubin, sehingga aku terpeleset dan jatuh.

Mendengar kehebohan yang terjadi di dalam rumah, menginisiasi tetanggaku untuk menghampiriku.

“Apa yang terjadi? Apa kamu tidak apa-apa?” dia bertanya sambil berlari tergesa-gesa.

Belum sempat aku peringati dia, dia pun terpeleset setelah menginjak tumpahan air di lantai. Jatuh tepat di atas badanku.

Begitulah pagiku hari ini. Sudah jatuh tertimpa tetangga pula. Kami coba bangkit dari posisi kami. Aku merasa tidak enak sudah merepotkan tetanggaku dan ikut mencelakakannya. Dia bilang tidak apa-apa.

Berhubung dia bilang tidak apa-apa, aku justru semakin tidak enak. Aku meminta maaf atas semua hal. Tidak hanya meminta maaf, aku pun meminta dia untuk tidak usah sungkan membawakan makanan kepadaku lebih sering. Mungkin dari situ perasaan tidak enak akan menjadi sebuah perasaan enak untukku.

Kabar Sunyi


Nak, boleh kamu cerita sedikit, barang sedikit saja tentang cerita hidupmu?
Tentang pilihan jalan,
tentang sebagian kegiatan, dan
kalau boleh sekalian kamu singgung juga kisah percintaan bersama perempuan.

Saya khawatir karena kamu terlihat hadir, tapi pikiranmu mangkir.
Dan itu, adalah segala penyebab getir.
Kamu ucapkan tenang saja, tapi apakah itu cukup?
Bisa kau tunjukkan apa yang harus membuat tenang?
Selanjutnya kamu meminjam hening dari embun pagi.
Tidak ada lagi yang bisa kau ceritakan.
Hanya dingin mencuat dari sorot matamu.

Nak, tidak ada bunyi yang paling dinantikan selain kabar darimu.
Boleh dari mulut yang bersuara atau cukup lewat chat dari WA.
Atas pencapaian-pencapaian yang layak kau gapai tapi banyak ku lewatkan.
Atas prestasi yang bagimu sudah basi.
Atas keluh dengan masih basahnya peluh.

Nak, kini sepertinya semua sudah sangat terlambat
untukmu menganggapku hebat.
Tiada lagi tenaga diriku agar kamu bisa ku jaga.
Kamu sudah terlalu dewasa.
Di saat kian rapuh dan menua apa yang disebut oleh orang sebagai raga, rehatku belum akrab dengan rasa lega.

Sunyi yang dulu kamu beri, nyatanya tak seberapa.

Dan sekarang, Nak.
Kabarmu tidak akan pernah terdengar.
Di sini begitu sunyi.
Sunyi…
Sunyi…
Doamu sangat berarti untuk tetap menemani dan menerangi
di bawah nisan ini.

30 November 2023
MyLoc, Braga

Menangys is Lyfe

Menangislah…

Bila harus menangis…

Begitu ‘kan, ya? Dengar-dengar di lirik sebuah lagu dari band bernama Dewa.

Kenapa menangis harus disuruh? Kenapa menangis harus didahului oleh permintaan?

Tidak ada yang pernah meminta seorang bayi baru lahir untuk menangis. Bahkan, ketika bayi itu tidak menangis, ada kecemasan yang muncul terhadap bayi tersebut. Bayi yang baru lahir adalah semurni-murninya seorang manusia. Dan apa yang dipilihnya pertama kali sebagai salam pembuka kepada dunia yang akan ditempuhnya? Iya, dia menangis. Saya menangis. Kamu menangis.

Menangis adalah ekspresi. Jauh sebelum kita belajar untuk menampilkan ekspresi sumringah bahagia yang palsu. Jauh sebelum kita mengenal bahwa otot wajah yang menekuk adalah simbol dari amarah dan kekecewaan.

Lalu, ketika kita semua beranjak lebih tua. Menangis dilekatkan pada sebuah emosi bernama kesedihan. Kesedihan dari individu yang tak mampu menanggung kerasnya kehidupan. Ketidak mampuan tersebut diberi label lebih jauh berupa ke-lemah-an.

Dari mana muncul semua ini? Bagaimana bisa premis-premis ini tercipta hingga menampilkan kesimpulan seperti ini? Entahlah.

Tidak mungkin para juara dunia yang berdiri tegap di podium menerima medali dalam keadaan sedih dan lemah. Setidaknya itu yang ada dalam alam pikirku.

Para juara dunia itu mengalahkan lawan-lawannya yang juga tangguh. Dan, sebelum sampai pada pertarungan dalam merebut satu fase lebih jauh dalam sebuah turnamen, mereka harus mengalahkan diri mereka sendiri. Menaklukan rasa malas, rasa lelah, rasa ketidak pastian. Penggerak berupa tekad yang bulat menjadi amunisi utama dalam menundukkan semua itu.

Posisi yang diraih para juara dunia itu bukanlah jalan yang mulus dan lurus. Selalu ada liku beserta naik dan turunnya motivasi serta kondisi fisik juga mental. Ketika mereka sudah meraih semua itu, perasaan lega, bahagia, dan bangga menyelimuti diri mereka. Adakah sedih menyeruak dalam posisi seperti itu? Coba tanyakan saja kepada mereka.

Dan ekspresi apa yang ditampilkan oleh mereka selain teriakan lepas dan senyum yang melebar? Tangis.

Stigma emosi sedih yang lekat bersama tangis, luruh detik itu juga.

Tidak ada ekspresi lain yang mampu mewakili segala perasaan yang kadung bercampur aduk. Semua, hanyut dalam derai air mata. Melihat ke belakang atas segala kerja keras, tangis yang menjadi klimaks dari ekspresi.

Menangis adalah hal yang manusiawi, sama seperti proses respirasi, sama seperti derap langkah kaki.

Menangis bukan aib. Bukan sesuatu yang hanya boleh disimpan sendiri. Ia layak dibagi, sama seperti kebahagiaan dan rezeki.

Aku tidak paham, sejak kapan menangis lekat dengan stigma tertentu. Tangis adalah sesuatu yang kita bawa sejak lahir. Kenapa ia mesti mendapat pandangan miring.

Mungkin, tangis adalah inti dari segala ekspresi. Karena dia datang secara alami. Tanpa dipelajari. Puncak sedih adalah tangis. Puncak amarah adalah tangis. Puncak bahagia adalah tangis.

Menangislah, Sayang.

Bukan karena untuk melepas beban. Bukan untuk meratapi kesendirian dan kesepian. Bukan untuk mengakui kelemahan saat mengajukan permohonan kepada tuhan.

Menangislah.

Tanpa harus disuruh, tanpa harus dipinta.

Hitung setiap tetes air mata yang jatuh. Berpasrah dan lelah.

Dengan itu, kita bisa kembali mengenali diri kita sendiri.

Terdapat pantulan diri, dari setiap tetes air mata yang kau hitung.

Nyamnyam Relationships

Early Disclaimer
Saya tidak merasa butuh untuk memberi disclaimer seperti ini. Saya hanya ingin.
Jadi, isi disclaimernya adalah:
Pertama, setiap kutipan atau saran-saran percintaan, lebih banyak orang cenderung untuk mengiyakan apa yang dibicarakan dalam tulisan saran-saran percintaan. Tidak perlu setuju dengan isi dari tulisan ini, karena saya bukan seorang pakar.
Kedua, saya tidak di-endorse oleh jenama yang bunyinya serupa dengan judul. Saya tidak menolak kalau memang mereka mengajukan ketertarikan.

Kata ‘relationship’ maknanya sangat luas. Berkaitan dengan hubungan sesama manusia. Konteks yang sering digunakan belakangan lebih mengarah pada hubungan romansa dua insan manusia. Tidak apalah, saya ikut dulu konteks yang umum digunakan ini.

Bentuk hubungan asmara itu banyak, cara menjalankan hubungan pun rupa-rupa. Ada yang berupa bisikan nama dalam doa, ada yang berupa emosi yang teredam oleh batasan norma, ada juga dalam bentuk kekerasan fisik yang menghasilkan luka-luka. Tidak ada di antara ketiga hal itu yang akan masuk pembahasan kali ini.

Kita bahas saja fase “Nyam” dalam hubungan percintaan yang mendekati titik ideal. Anggap saja friksi-friksi yang terjadi dalam hubungan ini adalah sebuah cerita perjalanan. Walaupun, “Nyam” ini juga tidak mewakili berbagai kisah pasangan-pasangan di luar sana, tapi kita tidak bisa menampik pola “Nyam” yang akan dikisahkan ini bertautan dengan perjalanan banyak pasangan juga.

Dari sekian banyak “Nyam” yang mungkin terjadi, saya membuat jadi tiga sari dari “Nyam”.

  • Nyambung

Inilah, nyambung obrolannya. Bagaimana bisa orang melanjutkan niatan untuk menjalin hubungan bila tidak ada persambungan di antara keduanya. Mau ngobrol apa? Katakanlah si cowo senang melakukan aktifitas luar ruangan, dan si cewe senang melakukan kegiatan di dalam ruangan. Dua orang itu merasa minat masing-masing adalah yang terbaik. Tidak ada upaya untuk membuka diri terhadap minat lawan bicara mereka. Belum juga melakukan aktifitas bersama, ngobrol saja tidak bertemu dengan titik jumpa. Mereka berdua memang penghuni semesta yang sama, namun berada dalam dunia yang berbeda. Tidak pula mencoba memahami dunia yang berbeda.

Beda cerita kalau dua orang itu nyambung. Anggap saja masih berasal dari kemungkinan cerita tokoh yang sama dengan situasi yang berbeda. Mereka mencoba saling terbuka terhadap dunia yang bertolak belakang. Ada keinginan untuk mempelajari hal yang baru bagi mereka berdua. Si cowo mencoba merasakan keasikan berdiam diri di dalam ruangan dengan bercengkerama. Di kegiatan ini si cowo menemukan bahwa dia masih bisa berjalan-jalan walaupun tubuhnya berdiam di satu tempat. Pikirannya berjalan-jalan. Menerawang fantasi juga imajinasi dari obrolan yang dilakukan keduanya.

Di waktu yang berbeda, si cewe mengikuti kegiatatan yang merupakan minat si cowo. Beraktifitas di luar ruangan. Menenggelamkan diri di tengah pohon teh. Dia menemukan dirinya mendapat energi dalam bentuk asing hasil menghirup udara segar dan pemandangan nan hijau.

Di setiap kegiatan yang menurut mereka baru itu, keterbukaan yang dimiliki bertranformasi jadi rasa penasaran yang menghasilkan pertanyaan dan mengisi pembicaraan yang terjadi antara mereka berdua.

  • Nyaman

Fase yang katanya menjebak. Bahaya sekali kalau sudah berada di fase ini. Ya, namanya juga jebakan, tidak ada jebakan yang tidak berbahaya bagi keberlangsungan hidup umat manusia. Dalam fase ini, dua orang itu susah lepas satu sama lain. Dalam kehidupan yang sangat kejam dan tidak adil, kenyaman ditemukan dalam significant others.

Belum juga yang satu menyelesaikan kalimat, pasangannya sudah tahu ke mana arah pembicaraan akan bermuara. Tenaga yang biasa digunakan untuk menyelesaikan sebuah maksud ide berubah bentuk menjadi sebuah rasa lega dan puas bahwa ada orang yang mengerti diri ini.

Coba, deh. Atau, ingat-ingat sensasinya, pada momen di mana diri ini tidak saja diakui kehadirannya di dunia ini, tapi juga dimengerti dan dipahami. Kebutuhan naluriah yang terpenuhi itu sangat mengisi. Apa yang diisi, ya? Tidak tahu. Tidak bisa dijelaskan, soalnya tidak ditangkap oleh lima panca indera yang manusia miliki. Sensasi itu hanya bisa dirasakan. Materi yang mengisi dan wadah yang diisi tidak tampak secara kasat mata.

Tantangan-tantangan yang menghadang di dua insan ini dalam menjalani hubungan percintaan perlahan-lahan akan menyeruak dan tampil dalam bentuk paling nyata. Perbedaan status sosial, perbedaan status perkawinan, perbedaan status Whatsapp. Semua menjadi bahan pertimbangan dalam melanjutkan hubungan yang sudah kadung berada dalam fase nyaman.

Ingin melanjutkan tapi sulit sekali melihat masa depan karena menjulangnya tembok penghalang yang membatasi visi masa depan. Mau diakhiri juga, aduh, sayang. Sudah nyaman. Begitu, bukan? Bukan, ya? Xixixi. Hehehe. Hahaha. Wkwkwk. Jajaja. Fufufu.

Berhubung sudah nyaman, ya coba saja melanjutkan lagi. Walau entah akan sampai mana.

  • Nyampur

Kosan nyampur. Inilah fase berikutnya. Eh, bukan. Itu bahasan yang melenceng. Muehehehe…

Ini yang jarang sekali dibahas. Sudah nyaman, ketemu lagi banyak perbedaan, malah jadi alasan sebagai batu sandungan. Tidak, dong. Kamu pikir, nyampur-nyampur bumbu untuk menjadi sebuah masakan tanpa patokan resep itu akan otomatis jadi sebuah menu makanan? Tidak, cintaku.

Begitulah perjalan hubungan asmara. Tidak ada buku panduan resep yang baku. Semua bereksperimen dengan bahan masing-masing yang mereka punya. Maka dari itu, saran-saran masalah percintaan tidak bisa disajikan dalam bentuk makanan jadi. Itu hanya sebuah saran penyajian yang biasa berada di balik bungkus makanan yang belum tentu akan dapat dinikmati semua orang. Mengacu pada hal itu, maka biar bagaimana pun setiap pasangan akan menjalani hubunganya dengan cara yang berbeda.

Dalam fase ini, prinsip dan visi hidup yang sudah tertanam dalam setiap individu akan berbenturan. Setelah sebelumnya tersimpan dalam benak masing-masing belaka. Beruntung bila dua prinsip ini bersinggungan walaupun tidak dijalankan dengan cara yang sama. Bila prinsip dan visi hidup ini bisa dikomunikasikan dalam bentuk toleransi dan konsekuensi yang dijalankan dalam sebuah komitmen, maka nyampur-nyampur ini bisa sangat lezat untuk dinikmati.

Saya tidak mau membahas perihal perbedaan prinsip dan visi yang berbenturan dan tidak bertemu pada satu titik yang sama. Sekali lagi, ini bukan tulisan atau panduan dalam kisah percintaan. Saya tidak mau juga pencitraan yang menempel pada diri saya kelak adalah seorang pakar cinta. Aduh, jangan. Amit-amit. Pakar kan hadir karena banyak pikir. Saya sih, tidak banyak kepikir tuh, ya. Lebih baik banyak keripik, bisa buat ngemil.

Dari sekian banyak relationship yang berkonteks asmara. Ada beberapa jenis jalinan relationship yang sebenarnya patut diberikan pergantian istilah. Hubungan yang didasari pada pemenuhan keinginan berbelanja barang-barang mewah, ganti saja menjadi relationshop. Hubungan yang hanya dijalankan oleh salah seorang saja di antara dua, dan satu lagi hanya mengekor pada sang gembala perjalanan hidup, ganti saja namanya jadi relationsheep. Hubungan yang ternyata hanya berisi usikan ketentraman dalam hati, ganti saja jadi relationpiss. Hubungan yang sudah tidak ada nyala kepedulian di antara sesamanya mungkin masuk pada fase ‘nyam’ yang ke-empat: “nyampakin”. Nah itu ganti saja namanya jadi relatioffship. Hubungan yang banyak beradu senjata tajam dalam menyelesaikan pertikaian, ganti saja namanya jadi relationsharp. Dan terakhir, mungkin hubungan yang ternyata dijalankan membentuk masing-masing pasangan jadi lebih baik, boleh diganti jadi relationshape.

Oh iya, ternyata saya baru mengerti dengan bidang ilmu cocoklogi. Kenapa menjalani relationship itu sulit dan sangat menantang. Dan kenapa mengarungi relationship itu sering dianalogikan sebagai menjalani sebuah kapal dalam mengarungi samudera. Karena apa? Iya betul. Ada ship dalam kata relationship. Mantap, ya? Bidang ilmu yang belum masuk jurusan kuliah formal itu.

Sebagai penutup tulisan, saya ucapkan terima kasih saja sudah nyambangin sampai sini.

Salam terbaik, sampai jumpa, sampai jompo.

Teruntuk Anakku

Terima kasih untuk teknologi dan dunia digital. Kita bisa meninggalkan jejak dengan lebih mudah.

Pra-dunia digital surat-surat akan tersimpan dalam botol, dalam selipan buku fisik, dalam abu sisa pembakaran.

Dalam pucuk surat yang belum bisa diserahkan pada orang yang dituju, maka rekam jejak di blog ini menjadi sebuah artefak yang rasanya bisa dibaca oleh orang yang dimaksud kelak.

Rasa ini bukan terpengaruh oleh rekan sebaya yang sudah tak terhitung berapa banyak yang sibuk mengurusi anak-anak mereka.

Curahan perasaan sudah kadung lahir ke dunia jauh sebelum buah hati menangis di depan gerbang kehidupan.

Beginilah anak, yang namanya, sudah tersimpan dalam rencana. Orang tuamu yang laki-laki ini sudah memendam rindu. Saat kamu baca surat ini, apa yang kami rasa dan pikir bisa saja sudah berganti, namun bila ada kesempatan untuk kita, jadikanlah ini sebuah catatan pengingat yang kau acungkan pada kami bila kau mau.

Teruntuk anakku, salam hangat. *senyum*

Teruntuk anakku,
yang mungkin sedang bernegosiasi tentang takdir hidupmu di sana, tentang tanggal ruh kamu akan ditiupkan, yang mungkin masih menunggu dititipkan untuk manusia macam begini.

Kamu adalah hujan pada siang hari.
Dengan lahirmu, bisa jadi atasmu hadir kutuk dan hardik.
Bertahan saja, masih ada kami yang siap mendampingi. Hingga kau gagah berdiri untuk menyambut matahari setiap pagi.
Kamu yang bersemayam dalam badan manusia mungil, kelak adalah pembawa cerah setiap malam ketika peluh kami sudah di puncak lelah untuk bahkan sekadar menitik.
Malaikat pembekal energi, yang selalu berbagi bekal kepada kami, sepasang makhluk berjudul orang tua.

Teruntuk anakku,
engkau sudah ada, kami yang belum mampu menangkap dengan indera.
Sedang kami tanam kebun kasih sayang untuk kau/kalian panen.
Buahnya tak menggantung di udara, melainkan tersembunyi dalam di balik kotornya tanah.
Begitulah cara panen dari kebun yang kami punya wahai engkau malaikat pemikul harapan.
Apa yang tampak hanyalah tanah basah hasil siram dari air mata yang kita kumpulkan bersama dengan setoran waktu nan berbeda.

Teruntuk anakku,
Jangan bilang dunia itu kejam. Jangan bilang dunia tidak adil.
Itu betul, hanya tak perlu kau ucapkan sesuatu yang tak ada guna dan tak ada hiburan di baliknya.
Saat kau beranjak remaja, ingatlah bahwa kita terikat, jauh sebelum kau menyelinap ke dunia melalui ibunda.
Kami menanti kamu dan kamu memilih kami. Bersedia terhadap pilihan Yang Kuasa juga sebuah pilihan.

Teruntuk anakku,
Kami sayang kamu, sebaik yang kami mampu.
Mari seimbangkan tuntutanmu pada kami, dan harapan kami padamu. 

Kumpul Remang

Apa sih yang tidak ada di sini? Kopi, ada. Rokok, ada. Indomie bertabur irisan cabe rawit pun tersedia. Mpok Ramin, sebagai pemilik warung selalu sigap bergerak selepas salah seorang dari kami berteriak menginginkan sesuatu.

“Mpok, mau kopi Good Night satu”, seru Saidi yang baru saja tiba. Saidi tampak lusuh di sore ini. Selayaknya orang bangun tidur siang dan langsung bergegas ke sini. Tanpa mandi. Tanpa pamit ke orang rumah. Tampangnya kusut dan tolol. Beres seruput pertama dari kopi yang instan hadir di hadapannya, ia berkelakar.

Menggibahi sang surya yang lemah, tak mau ikut nongkrong bersama kami menghabiskan malam. Sang surya berganti giliran jaga dengan lampu warung yang remang. Lampu yang kini, mendapat pujian dari Saidi karena dianggap lebih perkasa dari sang surya yang pulang terbenam.

Apa sih yang tidak ada di sini? Obrolan para remaja, hadir. Mpok Ramin yang tertunduk-tunduk mengantuk, hadir. Sisa kuah mie di mangkok, juga jadir. Dimulailah agenda utama pertemuan kami: mabar alias main bareng.

Kami keluarkan hp masing-masing. Membuka games Meubel Legend. Kami mulai membuat ragam furnitur di gawai kami. Bermain sebagai pengrajin di dunia digital. Terkekeh-kekeh kami melihat karya satu sama lain. Apalagi, karya Saidi. Dia membuat meubel lemari kayu berwarna cokelat kecoa tanpa pintu, tanpa laci. Apa guna, Saidi? Hanya jadi sebuah kotak tanpa isi.

Malam mulai larut. Mpok Ramin menegur kami bertujuh untuk pulang ke rumah kami, “kalian besok apa tak sekolah, hah? jam segini masih cekikikan di warung. Pulang gih, dicariin mama kalian. Jangan lupa bayar, jangan ngutang mulu!”

Apa sih yang tidak ada di sini? Teguran Mpok Ramin adalah sebuah angin lalu. Bagi kami, anak-anak putus sekolah, hanya satu yang belulm ada di sini bersama kami. Warung Remang Ramin adalah posko pelarian kami untuk mendapatkan yang ada dan melalaikan yang belum ada. Kami adalah kumpulang Anak Remang (Anak Remaja Nganggur), belum menemukan adanya masa depan.

***

– Bandung, 7 Oktober 2021
//Escape Tropical Bar.

Sinar Tenang Bhanu Dakara Coffee Shop

Jalanan Bandung lengang. Terlintas nostalgia tentang kota yang sama di masa kanak-kanak. Dengan angin segar sepoi-sepoi membelai pipi yang terbungkus masker, gendang telinga yang tak terlalu ditalu oleh bising kendaraan bermotor melintas, juga langit biru cerah.  

Mungkin kalau ada imbas positif dari pemberlakuan PPKM di masa pandemi adalah salah satunya keadaan demikian. Atau mungkin, pada tanggal 17 Agustus ini, masyarakat memilih untuk abai pada satu anjuran 6M yang berbunyi menghindari kerumunan dengan berkumpul di lomba-lomba untuk merayakan peresmian negara Indonesia. 

Perayaan-perayaan yang dirasa tetap perlu menjadi keperluan penghibur di tengah keadaan tidak menentu. Sebuah paradoks cinta. Sedangkan, perayaan kecil yang saya pilih laksanakan adalah cinta pada pengalaman yang didapat ketika mengunjungi kedai kopi. Perayaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirgahayu negara. Perayaan-perayaan kecil yang memang sesuatu yang harus terbit di setiap hari kehidupan, entah apapun bentuknya. 

Kedai kopi yang menjadi pilihan dalam perayaan ini bernama Bhanu Dakara yang terletak di kawasan Jalan Rajiman, Bandung. Pilihan ini didasari dari sebuah undangan dari rekanan sesama penggiat di industri kopi yang kebetulan menjadi barista di kedai kopi yang –setelah saya googling sedikit– bernama dari bahasa Sansekerta tersebut. 

Bhanu Dakara seperti jalanan di kota Bandung saat saya tiba, lengang. Kelengangan yang tidak terjadi di satu tempat saja, melainkan di banyak tempat lainnya. Menjadi sebuah nilai lebih pada kunjungan tersebut, karena dampaknya bisa lebih intens berbincang dengan rekan saya tersebut tanpa banyak terpotong oleh kegiatan rekan saya dalam membuat pesanan pada konsumen lain. 

Pada awalnya saya ingin pesan segelas espresso on the rock, sebagai bentuk perlawanan dan kenyamanan diri atas cuaca Bandung yang cerah sekaligus obat lelah dari perjalanan yang tak seberapa sehabis menunggangi motor. Namun, espresso tidak disediakan dalam menu, dan saya harus memilih menu lain. Saya jatuhkan pilihan pada americano dingin. Tak apalah, hanya menambah air dari apa yang saya idamkan untuk membasuh kerongkongan ini. 

Sambil menunggu pesanan, setelah menyeberang sejenak untuk membeli rokok saya meminta panca-panca indera saya untuk merasa lebih tentang lingkungan saya berada. Ada sensasi rileks yang perlahan meningkat. Hal itu tidak terjadi begitu saja. 

Mata disuguhi pepohonan rindang menjulang dengan daun nan hijau lebat. Paduan suara dari burung yang menari-nari di udara menjadi musik latar yang mengalun indah seperti orkestra dari simfoni Mozart, karena kebetulan musik latar digital di Bhanu Dakara sedang tak berputar. Badan yang bersandar pada kursi rotan juga menjadikan sebuah kenyamanan tersendiri. Bhanu Dakara yang bertempat di bangunan yang masih serupa rumah, menahbiskan kunjungan menjadi sebuah pertamuan dengan kerabat. Kita disambut tidak hanya oleh keramahan para pengelolah dan staf di Bhanu Dakara, namun juga suasana yang homy alias kerumahan. Sudah jarang saya pribadi temui kedai kopi yang memang menyajikan suasana seperti itu walau mereka klaim sendiri tempat mereka seperti rumah. Karena suasana seperti rumah bagi saya tidak dibentuk dari kursi semen tanpa sandaran. 

Belum habis saya menikmati diri sendiri, aroma kopi menyeruak dari segelas americano yang tersaji bersama senyum hangat dari rekan saya. Dalam sesap pertama, adalah perpaduan paripurna dari segelas kopi dan aroma dedaunan jatuh dari pohon yang terhirup. Sebuah pengalaman ketenangan yang ternyata bisa didapatkan di tengah kota yang hiruk pikuk. 

Ambil senyap sejenak, perasaan yang didapat tak kalah dari berdiri menatap kota Bandung dari sudut-sudut sunyi di Gunung Manglayang. Kamu merenung tentang 3 hari yang lalu, berisi sarapan roti yang dipanggang setengah gosong dapat mengakibatkan perutmu tak karuan. Atau tentang bayangan masa depan di 5 tahun lagi saat kau sudah menua dan lebih bijaksana. Entah kenapa terpatok di angka 5 tahun. Mungkin karena itu adalah pertanyaan dasar saat kamu melamar kerja sebagai fresh graduate. Menjadikan pertanyaan itu tak henti di ruang wawancara, melainkan terbawa sampai 5 tahun semenjak pertanyaan diajukan itu terlewati dan jawaban atas rencanamu itu tak terwujud. 

Pikiran-pikiran itu sekiranya hanya muncul dalam ketenangan di tengah gunung atau hutan. Namun, pada kunjungan di Bhanu Dakara pikiran-pikiran macam itu secara serampangan muncul silih berganti dengan topik apa yang akan kamu lontarkan berikutnya dengan teman bicaramu. 

Bukan berarti pikiran itu layaknya seorang yang mencekik lehermu dan mendesakmu pada sisi tembok. Pikiran itu menjadi warna tersendiri saat kamu menikmati kedai kopi penuh ketenangan jiwa seperti ini. Karena percayalah, untuk kedai kopi lain, topik yang akan menyita pikiranmu saat tak ada teman bicara tak akan jauh dari dunia mencari nafkah dan tugas-tugas kuliah. 

Variasi pikiran itu yang tampaknya menjadi sinar-sinar di tengah kegelapan tentang hari apa yang akan kita lalui di segmen-segmen yang berbeda dalam kehidupan. Seperti namanya, Bhanu Dakara dapat diartikan sebagai Cahaya Abadi. Beruntung mereka mengambil bahasa Sanskerta sebagai nama tempat, karena bila menggunakan bahasa Indonesia mereka akan disangka sebagai toko material atau toko listrik. Semoga Bhanu Dakara bisa menjadi sebuah titik labuh dari pikiran kita sendiri dalam menerangi kebingungan-kebingungan yang bergantian jumpa di hidup kita. Juga harapannya agar Bhanu Dakara tetap bersinar tanpa lekang oleh waktu. 

________

*) Saya tidak banyak mengambil foto di tempat. Lebih tepatnya saya tidak mengambil foto satupun. Hahaha. Foto di atas adalah hasil meminta pada rekan saya di Bhanu Dakara tersebut.

Di Balik Sebuah Tingkah Luka

Bertingkah laku, setidaknya bisa dibagi menjadi 3 kategori besar. Bertingkah laku di hadapan orang lain, bertingkah laku saat sendiri, sampai yang terakhir bertingkah laku di hadapan sesuatu yang dia anggap lebih besar (bisa tuhan -bila percaya, bisa hanya sebatas alam semesta).

Bertingkah laku di hadapan orang lain atau di lingkungan sosial. Kategori yang paling sulit untuk dijalani. Kesulitan itu terjadi karena teman bicara kita yang berbeda-beda, tergantung situasi, jabatan, status sosial hingga kedekatan emosional. Kita yang dikenal sebagai orang yang kaku di lingkungan A bisa jadi adalah seorang yang bawel tak henti-henti saat di lingkungan B. 

Seseorang yang dikenal sebagai tetangga yang baik di lingkungan rumahnya bisa jadi adalah seorang pimpinan organisasi teroris, yang tak segan mengambil nyawa orang lain demi tercapainya tujuan egois dari kelompok tersebut. 

Para tetangga tiada mengira seorang warga di daerah mereka tinggal yang dikenal ramah, justru adalah otak dari sebuah kejadian pemboman yang menewaskan makhluk dengan spesies yang sama dengan dirinya. Hanya karena berbeda idealisme, hanya karena berbeda cara menjalani hidup, maka ia pun dengan lantang menghalalkan nyawa sesama homo sapiens. 

Hanya satu contoh yang bisa dikatakan ekstrim namun terjadi secara nyata di waktu silam. Bahwa kita akan menjadi seorang pribadi yang mendapat penilaian berbeda di lingkungan yang berbeda pula. 

Apa pasal? Dari contoh kasus tersebut, ia menyimpan luka. Sebagai orang dewasa dan sudah mengarungi pengalaman-pengalaman dalam berinteraksi dengan sesama, ia tahu bahwa menjadi orang yang menyebalkan dalam bertetangga bisa terusir dari lingkungannya. Atau asumsi baiknya, dia sudah membuktikan sendiri sebagai tetangga yang baik, kehidupan di rumah menjadi lebih tentram. 

Beda cerita dengan luka yang diidap saat ia menyaksikan ketidaksesuaian antara ekspektasi yang hinggap di kepala dengan segala kejadian yang ada di dunia nyata. Orang ini melihat bahwa tindakan amoral tidak pantas ada di muka bumi sesuai dengan keyakinan yang ia anut. Dunia yang ideal menurutnya adalah dunia yang jauh dari hingar bingar hedonisme duniawi. 

Ya, kasus tersebut mengacu pada nama-nama macam Imam Samudera, Amrozi dan sejawatnya. Cerita tersebut belum dapat didukung oleh berita-berita yang ada. Mengacu di sini hanyalah contoh tokoh yang disertai asumsi-asumsi. Namun di tempat lain untuk kasus serupa, siapa yang bisa menyanggah memang benar terjadi dan dialami oleh beberapa orang?

Selanjutnya adalah tingkah laku saat sendiri. Hanya ada cermin untuk melihat kebodohan-kebodohan yang dilakukan saat tidak bersama orang lain. 

Orang yang tampak jenaka di dunia luar, bisa jadi adalah orang yang sama yang mengidap depresi di kesendiriannya. Ia murung di dalam apartemennya. Meratapi kesedihan yang entah datang dari mana. Bila pun ada kesedihan, ia tak bisa meninggalkan kesedihan-kesedihan itu di masa lalunya. Ia membawa duka itu di bahunya hingga masa kini dan entah hingga masa kapan. 

Atau orang yang tampak pendiam di kehidupan sosialnya, mendadak sangat menikmati bernyanyi lantang saat ia mandi. Memegang gayung sebagai mic dalam imajinasinya. Ia bisa nyaman dalam kesendiriannya, namun sangat canggung saat bertemu orang. Berharap suatu saat ia bisa tampil di sebuah panggung besar, membawakan lagu-lagu ciptaan Melly Goeslaw atau Ahmad Dhani, namun ia tak berani menyebarluaskan suaranya yang merdu dan menyentuh kalbu. 

Kita tidak sedang membicarakan apa itu introvert atau extrovert. Bahkan kita tidak sedang membicarakan mitos tentang jembatan di antara keduanya yang disebut sebagai ambivert. Ini hanya tentang bagaimana ia bertingkah laku saat sendiri. 

Pada contoh kasus pertama tentang pribadi jenaka yang mengidap depresi, kita mengacu pada seorang aktor Hollywood legendaris bernama Robin Williams. Siapa sangka orang yang terlihat bahagia di depan kamera dan kehidupan sosialnya adalah pribadi yang sama yang menyimpan luka tak terperi untuk dirinya sendiri. 

Contoh kasus kedua, bisa jadi itu mengacu pada kita semua. Sayangnya cermin sudah tersubstitusi oleh fitur kamera di telepon genggam yang sudah menjadi organ tubuh kita juga. Akan terluka bila tak terbawa. Pikiran kalut tak tenang oleh candu bunyi notifikasi yang sebetulnya tak pernah datang jua. Fitur kamera itu membawa kehidupan yang selayaknya hanya diketahui oleh diri sendiri, terbawa untuk dinikmati ribuan orang yang tak kita kenal baik juga, dibantu oleh ragam platform media sosial. 

Saat sedih ditunjukkan pada khalayak ramai. Air mata tidak boleh sampai mengkristal sebelum dipamerkan untuk memperoleh perhatian dunia. Kala senang, tak boleh ada satu pun pengikut akun media sosial kita terlewat mengetahui emosi berbunga-bunga yang melanda. Karena, bila sampai ada satu saja yang terlewat, justru itu yang mengikis dan mengeliminasi rasa bahagia.

Benar apa betul? Tidak juga, memang masih banyak yang tidak bertingkah laku seperti demikian. Kalangan itu, memang lebih senang menyimpan sendiri luka yang dialami, atau justru mereka menghindari untuk melukai saat mereka sedang mengumbar hal yang mereka anggap sebagai sebuah privasi. Dengan begitu, tetap saja tidak menjadikan orang yang menjadikan fitur kamera di ponselnya sebagai penggeser posisi cermin hadir dalam jumlah yang sedikit. 

Mereka-mereka itu adalah kalangan yang sebetulnya saya sangat hargai, karena mereka berani mengambil resiko untuk luka. Ketika apa yang mereka bagikan di dunia maya tentang dirinya ternyata mengundang perundungan berjamaah digital melalui jempol-jempol saja, tanpa menampilkan wajah aslinya. 

Ah! Mungkin itulah fungsi sebuah undang-undang ITE, untuk menyajikan kepada anda semua bagaimana muka-muka yang merundung, memaki dan menghardik, agar kemudian tampil dalam sebuah rekaman video memberikan rangkaian kata klarifikasi. 

Dan terakhir, tingkah laku seseorang di hadapan tuhannya. 

Anggap saja tulisan ini dibuat untuk orang yang bertuhan semata. Kalau kamu atheis, ya maaf kamu tidak dilibatkan untuk disinggung dalam tulisan ini. Suruh siapa ga percaya tuhan.

Seorang pelaku profesi pekerja seks komersial, mengadu pada tuhannya di waktu langit berubah menjadi terang. Bahwa ia jengah dengan cara hidup menjual kemaluannya. Organ yang seharusnya suci dan diposisikan dalam keadaan terhormat justru disinggahi oleh ratusan pria hidung belang. 

Dia menangisi ketidak adilan hidup. Meresapi bahwa organ yang suci itu begitu diburu oleh para lelaki. Kata suci sudah berubah makna baginya sebagai sebuah kemunafikan. Suci nyatanya menjadikannya luka. 

Saat konsumen-konsumennya bicara tentang moral dan pahala di tv nasional, ia seketika muntah. Merasa jijik dengan apa yang didengarnya. “Sok suci!”, begitu gumamnya dalam hati. Tak pernah ia mengucap lagi kata suci, karena lidahnya begitu kelu pada kata yang sudah hilang makna. 

Adilkah? Konsumen-konsumennya berhak menyuarakan tentang suci, namun dirinya tak punya daya barang secuil untuk mengeluh tentang arti suci. Sebagai debu zaman saja, orang-orang seperti enggan memberi label demikian kepadanya. Ia merasa posisinya lebih rendah dari itu di mata masyarakat. 

Selanjutnya, ia mengeluh tentang suaminya pada tuhan. Tentang tingkahnya yang semena-mena setiap ia menang judi bola. Namun selalu menangis-menangis mencari tuhan juga saat keadaan menghimpitnya. Apa yang dikeluhkannya tak jauh dari “cobaan macam apa lagi ini yang Kau berikan, Tuhan?” Haha. Dia tak pernah tahu bahwa suaminya adalah seorang yang humoris. Dia hanya tahu bahwa suaminya hanyalah pria ringan tangan. Bukan untuk membantu meringankan urusan orang, melainkan memberi bekas luka di pipi dan sekujur badannya. 

Dia tak mengerti apa itu karma. Hal yang ia tahu, ia hanyalah mendapat cobaan ketika sedang hidup susah menurutnya. Saat ia sedang mendapatkan kemenangan besar, ia lupa, bahwa tuhan pula yang memberikan kemenangan itu. Bukan karena ia yang jago dalam menebak skor akhir sebuah pertandingan. Dan di mana dia? Mabuk-mabukan di tempat karaoke langganannya. Segala kepahitan adalah cobaan dari tuhan, sedangkan kesenangan adalah hasil jerih payahnya seluruhnya. 

Ia bertemu tuhannya hanya ketika kalah. Menunjukan tingkah sebagai makhluk yang lemah. 

Hanya tangis, tangis, dan tangis yang bisa kami tampakkan pada tuhan kami. Tak pernah ada senyuman dari kami untuk membalas senyum dari tuhan itu sendiri. 

Dia percaya bahwa tuhan lebih sering tersenyum dibandingkan marah, kecewa dan sedih. Namun kepercayaan itu tak bisa terbukti karena penglihatannya yang terbatas pada mata. 

Di akhir keluhannya pada pagi itu kepada tuhan ia berkata, “kalau hidup adalah cobaan, tentunya apa yang Kau tentukan pada kami seharusnya bukan coba-coba. karena kalau coba-coba aku yakin Kau pun tak tahu apa hasilnya. Sedangkan Kau Sang Penguasa Takdir jelas tahu setiap coba yang Kau coba pada setiap makhluknya. Aku tidak tahu apa yang ada di benak-Mu. Mungkin salah satunya, Kau mengharapkan manusia sepertiku untuk bertingkah laku dengan baik dalam menjalani hidup, tapi sayang Tuhan, bertingkah baik tidak laku dalam dunia ini. Lalu aku harus bertingkah seperti apa untuk menghapus luka-luka yang kadung dialami?”

Lintingan Mimpi

Bagaimana bisa seorang pria melinting mimpinya?
Sedang bahan-bahannya adalah sebuah cita yang kering tersengat radiasi matahari.
Terpakunya pada lentik jemari yang menari, saat imajinasinya berlari,
tentang bagaimana bahan di tangannya sempat tertanam di sebuah tempat nan jauh.
Pernah terlalui dan sayangnya tak sempat diresapi.

Papir tergulung perlahan, dengan liur kental transparan terekat.
Kini mimpi tergulung rapi, berkumpul satu, hingga memampat.

Saat tatap mata sang pria menuju hampa
lintingan pun hinggap di bibir yang menjepit
dinyalakan dengan api yang membuat matanya menyipit.

Menghisap mimpinya
Menyesap bahagia
Menguapkan cita kembali ke udara

Mimpinya menjadi abu dalam asbak tanah liat tua.
Mimpinya bercampur debu beterbangan menyusup jendela
Mimpinya minggat dari kalbu yang tengah berduka

Dia putuskan untuk menanam kembali mimpi
Di dalam tanah berbatu nisan yang sepi.

Brewspace
Bandung, 15 Desember 2020

Design a site like this with WordPress.com
Get started