Featured

Hello

Semacam menuangkan apa saja yang ada di pikiran.
ada curhatan, hasil melihat lingkungan, apa yang dirasa, dan apa yang dipikirkan
kebanyakan tulisannya diketik saat berada di kamar
Nulisnya ada di tanggal, tapi postingnya entah kapan, pasti beda tanggalnya 😀

Feel free to judge me, and please do judge me if you want, because I don’t care
Just don’t sue me.

– Ryan

ini Blog Saya Juga by the way

Advertisements

Kita Semua Kotor dan Beracun

We’re all whore.
We only sell different parts of our body.

Kutipan macam apa yang saya temukan secara tidak sengaja di salah satu tempat di dunia ini! Saya terhenyak! Aku? Pelacur? Oh, tidak… tidak…

Saya tidak mengerti dan tak bisa memaknai kata-kata tersebut. Justru saya malah terbayang suatu kondisi di mana kita bisa mengkritisi kehidupan orang lain dengan berbagai gaya (sehat) hidupnya tapi lupa dengan gayanya sendiri.

“Jangan merokok! tidak baik buat kesehatanmu.” Oke, betul. Di satu sisi rokok tidak baik buat kesehatan fisik, tapi bisa jadi rokok menjadi obat paling mujarab bagi orang yang dikritisi untuk menjaga pikirannya tetap sehat.

Menjadi sebuah ironi, saat orang yang mengomentari hal tersebut, memang betul tidak merokok, tapi ia doyan dengan mengonsumsi junk food dan aneka makanan lain yang sebenarnya tidak menyehatkan pula.

Bukan satu contoh saja yang bisa diberikan dalam kasus demikian. Tidak sedikit orang bisa menasehati orang lain dengan kebiasaan buruk yang mereka miliki.

Boleh saja orang menasehati untuk tidak tidak merokok, tapi ia makan penuh dengan lemak jenuh dan tinggi akan kolesterol jahat. Boleh saja orang menasehati untuk menjaga makanan yang masuk ke dalam tubuh orang lain, tapi ia sendiri rutin mengonsumsi minuman beralkohol. Boleh saja orang menasehati orang lain untuk tidak mengonsumsi minuman beralkohol tapi ia sendiri hobi untuk membicarakan orang lain dengan penuh dengki dan iri. Boleh saja orang menasehati untuk tidak bersikap dengki dan iri tapi dirinya sendiri dipenuhi dengan rasa rendah diri. Boleh saja orang menasehati orang lain agar tidak rendah diri tapi dirinya sendiri gila akan harta dan tahta.

Nasehat-menasehati akhirnya baik untuk saling mengingatkan agar kita sama-sama terhindar dari hal yang tidak baik, tapi ia menjadi luntur maknanya saat mau untuk menasehati tapi tutup telinga ketika dinasehati.

Tubuh kita akhirnya diracuni oleh hal-hal yang memang kita kehendaki sendiri. Pikiran dan hati juga sama diracuni oleh kehendak kita.

Bila memang manusia adalah makhluk yang kotor dan penuh dosa, itu bukannlah sebuah perumpamaan dalam dunia spiritual belaka. Ia pun diterapkan dalam tubuh, pikiran dan hati secara harfiah melalui segala hal yang masuk dalam perut kita.

Saya tidak tahu apa ungkapan bahwa kita ini semua pelacur dan hanya menjual bagian tubuh yang berbeda itu tepat adanya. Saya tapi tahu pasti, kita semua kotor, kita hanya memilih racun yang berbeda saja untuk masuk ke dalam tubuh kita.

Lidah-Lidahan

Kamu tahu? Mulut yang sering digunakan berucap,
punya organ juga yang berfungsi sebagai pengecap
cap… cap… cap

Dia, adalah lidah yang basah diselimuti ludah
slurp…

Dia mengecap rasa: manis, asin, asam, pahit, umami
rasa itu juga yang bisa menempel dari lontaran kata yang terucap
manis, asin, asam, pahit, dan umami.

Tapi kini, ia bertambah bersama pedas, panas, dingin, tajam dan menusuk.
Dan sensasi itu lengkap terjadi pada sebuah masa.
Pada momen adu mulut dan bersilat lidah antara buaya dan mertua.

Si lidah mertua berbadan ramping dan tegap. Ia punya hobi meresap aroma-aroma di sekelilingnya.
Berkata-kata pedas, menusuk, nyelekit kepada si buaya. Katanya si buaya itu mokondo telah menyunting anaknya. Dengan rayu-rayu bualan tentang cinta si buaya merenggut hati anaknya. Tapi kemudian, anaknya luntang-lantung karena si buaya tidak menafkahi anaknya secara lahir batin.

Lidah buaya, berpenampilan semrawut juga punya hobi merawat rambut. Tapi dia tidak suka dengan merawat hubungan. Penuh janji-janji yang tak pernah ditepati. Ia meminta maaf hanya untuk mengulang kesalahan kembali. Dan wanita-wanita, anehnya selalu jatuh ke dalam pelukannya, lagi dan lagi. Mantap sekali.

Aku sendiri, harus berada di tengah mereka. Harus memilih satu di antara keduanya. Aku sumber bencana dari perselisihan ini. Rasanya aku ingin kabur saja pakai Sumber Kencana. Sayangnya aku tak
bisa dan tak mau.

Badanku lunglai memisahkan mereka, si lidah buaya dan lidah mertua. Semakin aku
berusaha, justru semakin terbakar juga mereka. Semakin panas dan membara.
Ingin aku akhiri semuanya. Tak tahan lagi dengan cekcok ini, aku hanguskan saja mereka semua. Saat semua sudah menjadi abu, biar tersisa aku saja.

Salam hangat menggelora dari aku,
Lidah Api

LEBARAN BANG SAT (bagian 3 – tamat)

bagian 1

bagian 2

Setelah sekian lama menunggu, datanglah Kim dan konsumen tersebut memecah kebosanan yang mendera Bang Sat.

“Bagaimana, Om? Lega?”

Bang Sat coba mencairkan suasana agar tidak terlalu kaku. Si konsumen tampak sumringah dengan muka sedikit lelah. Saat menoleh kepada Kim ia mendapati ekspresi bosan dan seperti ingin segera kembali ke Jalan Nangka. Bang Sat mempersilakan Kim dan si konsumen untuk naik ke dalam becaknya. Kim terdiam. Ia menolak untuk naik ke atas becak Bang Sat. Katanya, dia mau berjalan kaki saja sekalian membeli rokok.

Berangkatlah Bang Sat dan konsumen ke hotel tempat si konsumen menginap. Berbeda dengan sebelumnya, Bang Sat tampak lebih mengambil inisiatif untuk berbincang dengan konsumen. Konsumen tersebut pun menanggapi dengan hangat. Topik-topik basa-basi pada umumnya pun dilontarkan oleh Bang Sat seperti kota asal dari si konsumen, profesinya, hingga berapa lama menetap di kota ini.

Jarak yang ditempuh cukup jauh untuk tiba ke hotel tempat konsumen itu menginap. Malam yang kian larut membuat perjalanan terasa lebih lama karena topik pembicaraan pun sudah habis dan jalanan sudah mulai sepi.

Peluh dari Bang Sat mulai menetes di dahinya. Ia tahu ini tenaga sisa yang dimilikinya karena sehari penuh belum makan. Tangannya mulai gemetar. Becak yang ditungganginya berjalan tidak semestinya. Ban depan kirinya bergoyang tidak stabil.

Di sisi jalan yang sepi dekat sebuah sungai mereka pun menepi. Tidak banyak kendaraan melintas di jalan ini. Keadaan pun sunyi, hanya tersisa suara percik arus air sungai yang lembut. Bang Sat meminta izin konsumennya untuk memeriksa keadaan becaknya. Konsumen tersebut turun dari kursi penumpang dan memperhatikan kerusakan yang tengah dialami becak Bang Sat.

Untuk menghindari suasana kaku, Bang Sat berusaha kembali memulai obrolan dengan persiapan lebaran yang dilakukan konsumennya. Tidak banyak yang ia dapati dari jawaban sang konsumen. Demikian, ia pun melanjutkan pembicaraan dengan sebuahan keluhan tentang keadaan dirinya. Keluhan Bang Sat ditanggapi dengan sikap acuh tak acuh dari konsumen yang sudah mulai hilang kesabarannya.

Setelah diperiksa, ternyata baut roda becak Bang Sat longgar.

“Bang, ini sebenarnya kenapa becak Abang? Dari tadi seperti ga dibenerin apa-apa, dilihat doang. Kalau hanya dilihat ya mana bakal bener becaknya. Bisa lebih cepet ga, Bang? Saya udah capek nih, ingin cepet-cepet balik ke hotel.” Konsumen berbicara dengan ketus.

“Maaf, Om. Namanya juga malem gini, saya jadi agak susah lihatnya. Sabar ya, Om.”

Mendengar sang konsumen berkata seperti itu, jantung Bang Sat berdegup kian kencang. Telapak tangannya kini basah. Keringat dingin di sekujur tubuhnya semakin deras mengalir. Mendadak ia merasakan adrenalin yang bergitu naik di dalam tubuhnya.

“Masih lama ga, Bang?”, sang konsumen kembali bertanya.

“Bentar ya, Om. Saya ambil kuncinya dulu untuk benerin ini. lima belas menit lagi deh, Om. Sabar, ya. Maaf banget ini Om.”

“Ga apa-apa, Bang. Saya mau kencing aja dulu. Buruan ya, Bang. Saya nanti balik lagi ke sini udah beres, ya.”

“Iya, Om. Siap!”

Sang konsumen pergi meninggalkan Bang Sat dan turun ke bibir sungai. Bang Sat memegang erat kunci. Mengencangkan kembali mur dan baut yang sebelumnya sengaja ia longgarkan. Tidak memakan waktu lama ternyata untuk membereskan hal tersebut. Bang Sat pun berteriak memanggil sang konsumen untuk segera kembali menuju becak.

Sekembalinya si konsumen menuju becak Bang Sat, tidak ia dapati Bang Sat di sekitar sana. Konsumen tersebut kini berbalik memanggil-manggil Bang Sat. Tak ada yang menyahut sama sekali. Tak mungkin kalau suaranya tidak terdengar oleh Bang Sat karena jalanan sangat sepi. Tidak ada suara kendaraan bermotor yang menutupi suaranya. Bahkan bisa dibilang tidak ada suara sama sekali malam ini kecuali desir angin yang begitu lembut.

                Sang konsumen tersebut mulai panik. Ia ingin pergi ke hotel seorang diri tapi ia pun tidak terlalu hafal jalan menuju ke sana. Ia terus memanggil-manggil Bang Sat sambil menyusuri kembali jalan menuju sungai di titik ia sebelumnya buang air. Tetap tidak ditemuinya orang sama sekali. Ia pun memutuskan kembali menuju becak Bang Sat. Sempat terpikir olehnya untuk mengayuh sendiri becak tersebut dan meminta pertolongan pada siapa pun orang yang pertama kali ditemuinya kelak.

                Ia memutuskan akan memanggil Bang Sat lima kali lagi. Kalau dalam lima kali tidak muncul juga Bang Sat, maka ia akan mengayuh becaknya kembali ke Jalan Nangka. Baru dua kali ia memanggil-manggil, Bang Sat muncul dari balik kegelapan.

                “Bang dari mana aja? Saya tadi manggil-manggil. Udah beres becaknya, Bang?”

                “Udah, Om.”, Bang Sat menjawab singkat sambil mendekat dengan kedua tangannya tersembunyi di balik punggungnya.

                “Kenapa mukanya tegang banget, Bang? Habis lihat apaan? Kaku gitu.”, sang konsumen mundur selangkah melihat gelagat yang tidak beres dari Bang Sat.

                “Ga apa-apa. Ayo kita berangkat, Om.” Senyum yang begitu canggung terpasang di mukanya.

                “Ayo. Tapi yakin ga kenapa-kenapa, Bang?”, si konsumen mulai merasa takut.

                “Yakin, Om. Saya laper aja belum makan.”

                “Oh, begitu. Ya udah kalau gitu, saya naik ya.”

                Bang Sat mengangguk dan mempersilakan si konsumen naik ke dalam becaknya. Mereka berdua berjalan beriringan menuju becak. Mencium gelagat tidak baik, konsumen tersebut terus mengawasi Bang Sat.

Belum sampai mereka di becak, Bang Sat mengeluarkan lengannya dari balik punggungnya. Ia tengah menggenggam kunci dengan erat. Ia berusaha memukul kepala si konsumen tersebut. Namun si konsumen berhasil menghindar. Bang Sat mencoba memukul kembali dan tangannya berhasil ditahan oleh konsumen. Kemudian terjadi pergulatan yang sangat sengit di antara keduanya. Beberapa pukulan mendarat di muka Bang Sat. Bang Sat pun berhasil beberapa kali menghajar si konsumen dengan kunci yang dimilikinya.

Mereka berdua tampak kelelahan, tapi si konsumen terlihat lebih lemah. Darah segar mengalir dari banyak titik di kepalanya. Tentu akan beda hasil yang diperoleh ketika dipukul dengan tangan kosong dan logam. Dengan tergopoh-gopoh Bang Sat kembali mendekati sang konsumen. Sang konsumen merangkak, mencoba menjauh dari Bang Sat. Tapi ia tidak cukup memiliki tenaga untuk kabur dari Bang Sat.

Mendapati sebuah sasaran yang sangat empuk Bang Sat kembali memukuli si konsumen tersebut dengan kunci yang digenggamnya. Konsumen tersebut sudah tidak bisa menahan amukan dari Bang Sat. Ia hanya terdiam hingga dirinya tidak sadarkan diri. Dalam keadaan lawan yang sudah tidak sadarkan diri tersebut, Bang Sat masih memukulinya tanpa ampun.

Dengan sisa-sisa tenaga Bang Sat menyeret tubuh si konsumen menuju sungai. Setibanya mereka di bibir sungai, Bang Sat menitikkan air mata. Ia meminta maaf atas perbuatannya. Ia pun mengambil dompet dari si konsumen tersebut, mendorongnya ke dalam aliran sungai. Setelah selesai ia pun mencuci dirinya dengan air sungai tersebut.

Tergesa-gesa ia kembali menuju becaknya. Membawa dompet yang berisi uang yang masih banyak di dalamnya. Dengan rasa lega ia kini mengayuh becaknya pulang menuju rumah.

LEBARAN BANG SAT (bagian 2)

bagian 1

“Ya, Neng. Abang jadi harus pulang nih? Semalem ini aja deh Abang kayak biasa, nyariin konsumen terus nganter ke sini. Abang lagi butuh banget uang ini. Neng tahu sendiri, semenjak ibu anak-anak ga ada kabar dari Malaysia, ya Abang jadi harus nyari duit lebih keras buat anak-anak. Sebelumnya gaji ibu anak-anak sebagai TKW di sana bisa mencukupi kehidupan mereka, tapi sekarang buat makan juga udah ngos-ngosan.”

Bang Sat memelas. Ia lanjut berbicara mengeluhkan perasaannya saat bulan puasa yang berubah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Baginya kini bulan puasa lebih sebagai sebuah beban untuk dihadapi dibandingkan anugerah, karena biaya yang harus dikeluarkan memuncak di momen ini. Ia terpikirkan harus menyiapkan uang untuk baju anak-anaknya, belum lagi ditambah ia belum bisa memastikan untuk mudik ke kampung halaman atau tidak, kemudian ditambah dengan oleh-oleh saat mudik, atau uang patungan untuk membeli bahan masakan sebagai menu makanan lebaran, selanjutnya tentang angpao kepada keponakan dan saudara-saudara pun tak luput dari beban pikirannya.

“Maaf nih, Bang. Neng hanya bisa ikut sedih dengernya. Neng ga bisa ikut bantu ngasih duit buat Abang. Di satu sisi, Neng juga menghadapi masalah yang serupa dengan Abang, di sisi lainnya memang konsumen dan pendapatan Neng jauh menurun dibandingin bulan biasa. Abang berdoa aja semoga dikasih jalan buat dapet duit, khususnya buat beliin baju baru untuk anak-anak.”

Malam masih dini, Kim dan Bang Sat terdiam dengan tatapan kosong. Di hadapan mereka telah melintas satu per satu teman-teman Kim yang berjalan bersama masing-masing konsumennya. Ingin rasanya Kim mengusir Bang Sat dari hadapannya agar ia bisa segera mendapatkan konsumen, tapi ia tidak bisa serta merta melakukan itu, karena Bang Sat sudah sangat sering merekomendasikan Kim kepada konsumen-konsumen yang dibawanya. Ia merasa tidak tahu diri bila mengusir Bang Sat saat ini.

Bang Sat membuka kembali mulutnya. “Neng, bukannya abang merasa sebagai orang paling bener, tapi Abang mau nanya, boleh ga? Maaf kalau menyinggung.” Pertanyaan tersebut hanya dibalas dengan sebuah anggukan dari Kim. “Neng, aneh ga sih? Ini kan bulan suci ya. Kita pantes ga sih di sini?”

Kim menarik nafas panjang menatap Bang Sat dengan tatapan iba dan berkata dengan tenang. “Maksud Abang, pantes ga saya masih mangkal di bulan suci ini? Hahaha. Abang memang polos banget. Ya gimana, Bang, selain karena tuntutan hidup, bulannya doang yang suci, manusia-manusianya sih tetep kotor berlumuran dosa. Ga liat bulannya bulan apa. Mereka yang di luar sini mengutuk kita pun sama kotor juga, Bang. Mereka hanya merasa sok suci dan lebih baik saja dari kita, padahal belum tentu. Mereka yang menilai seperti itu, manusia juga sama kayak kita, jadi ga usah didengerin. Padahal bukan hak mereka buat menilai-nilai manusia lainnya lebih baik atau lebih buruk dari mereka. Jadi biarin aja.”

“Bukan gitu, Neng Kim. Rasanya kita ga menghargai momen bulan suci aja gitu.”

“Hahaha… Bang, Bang. Dengan kita gelap-gelapan gini juga udah cukup menghargai orang-orang yang pengen fokus di bulan suci ini. Lagian kalau bukan karena masih ada yang dateng ke sini juga, kami ga akan mangkal kok, Bang. Kami kan ada karena permintaan pasar juga ada. Kalau kami terpaksa untuk mencari nafkah dengan cara lain akibat konsumen yang ga ada sama sekali, ya kami cari nafkah dengan cara lain, tapi karena konsumen juga selalu ada, ya udah kita jalanin aja apa yang bisa dijalanin dulu. Yang penting kami bisa menyambung hidup, Bang.”

Bang Sat terlihat tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Kim yang usianya sepantar dengan dirinya. Ia hanya kagum dengan cara Kim bicara menjelaskan sudut pandangnya. Bang Sat kemudian meminta izin Kim untuk mencarikan konsumen. Ia tetap memelas agar bisa mendapat cipratan rejeki demi mendapatkan sedikit uang. Kim pun memberi izin. Kemudian Bang Sat pergi mengayuh kembali becaknya meninggalkan Kim dalam kegelapan.

Bang Sat memantau orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar Jalan Nangka mengamati tingkah laku mereka yang ingin tetap menghidupkan bisnis lendir ini. Berbeda dengan keadaan saat ia menunggu calon penumpang di daerah pusat perbelanjaan yang membuatnya putus asa, di sini ia bisa melihat secercah harapan untuk mendapatkan sedikit uang untuk dibawa pulang. Hal itu diakibatkan oleh orang-orang yang melintas di sana lebih memiliki potensi untuk memberinya uang dibandingkan di tempat sebelumnya.

Tidak berselang lama, ia mendapati dirinya dihampiri oleh seseorang. Orang yang gelagatnya tampak jelas sedang mencari sebuah kenikmatan duniawi di bawah perutnya. Orang tersebut tampil cukup sederhana, hanya mengenakan kemeja lengan pendek, celana pendek, dan bersepatu. Satu hal yang kentara atas setelannya tersebut adalah kaca mata hitam. Sudah menjadi suatu prasyarat tidak tertulis, konsumen di Jalan Nangka ini mengenakan kaca mata hitam ketika mencari jasa untuk memenuhi kebutuhannya.

Orang tersebut menegur Bang Sat dengan sebuah sandi, “Bang, mau beli daging”

“Untuk lebaran?”, Bang Sat menjawab dengan hati-hati dan mata berbinar bagai melihat sebuah oase di padang pasir.

“Bukan, buat malem ini aja. Yang belum dikulitin”

“Daging apa daun nih, Om? Sama tulangnya sekalian?”

“Daun apaan, Bang?”

“Pasti bukan orang sini, ya?”

“Iya, saya juga orang jauh, kebetulan lagi menginap daerah sini.”

“Jadi, daging aja dulu lah ya?”

“Iya, bang. Yang pasti-pasti aja.”

“Oke. Saya antar ya, Om.”

Calon konsumen itu pun berangkat ke dalam Jalan Nangka yang gelap menumpang becak Bang Sat. Tidak banyak yang mereka perbincangkan. Suasana cukup senyap hanya berseling suara knalpot kendaraan bermotor di kejauhan. Bang Sat tahu harus ke siapa ia mengantarkan konsumen ini. Ia kembali ke tempat ia terdiam sebelumnya mengharapkan Kim belum beranjak.

                Setibanya di tempat tujuan, beruntung harapan Bang Sat tidak bertepuk sebelah tangan. Kim belum mendapatkan konsumen lain dan dirinya masih berdiam menunggu pelanggan di tempat yang sama. Setelah proses negosiasi berlangsung dan terjadi kesepakatan antara konsumen dan Kim barulah Bang Sat bisa pergi lagi mencarikan konsumen lainnya untuk teman-temannya Kim. Begitu harapannya.

                Ternyata proses negosiasi tidak berlangsung lancar. Kim meminta harga lebih tinggi dari biasanya. Bang Sat berpikir bahwa ini dilakukan karena Kim sedang butuh uang lebih juga. Konsumen itu merasa keberatan dengan harga yang ditawarkan Kim. Katanya ia tahu dari orang kalau kisaran harga di sini tidak semahal itu. Bang Sat pun mencoba menengahi proses tawar-menawar yang alot tersebut. Entah kemampuan apa yang merasuki dirinya sehingga konsumen itu akhirnya mau mendengar omongan Bang Sat dan negosiasi itu pun selesai. Tidak lupa Kim meminta uang tips, bukan untuk dirinya, tapi untuk diberikan kepada Bang Sat. Saat sang konsumen mengeluarkan dompetnya tampak di balik kegelapan dompet tersebut sangat tebal berisi lembaran uang yang tak jelas nominalnya. Bang Sat diberikan selembar uang dari dalam dompet sang konsumen dan langsung memasukkannya ke dalam saku celana tanpa melihat nominalnya.

                Bang Sat pamit undur diri mempersilakan konsumen tersebut pergi bersama Kim. Belum sempat Bang Sat naik ke jok becaknya ia dipanggil kembali oleh konsumen dari Kim. Ia meminta diantarkan ke sebuah hotel melati terdekat. Bang Sat mengiyakan dan naiklah Kim bersama konsumen tersebut. Sesampainya di depan hotel melati, Bang Sat diminta untuk menunggu dan mengantarkan si konsumen tersebut kembali ke tempat penginapannya. Bang Sat mengiyakan kembali permintaan tersebut.

                Bang Sat terduduk di kursi penumpang menunggu urusan si konsumen dan Kim tuntas di dalam kamar hotel. Terpikir kembali olehnya baju baru anaknya. Ia memeriksa uang yang tadi diberikan oleh konsumen Kim sebagai tips. Ia melihat hanya mendapatkan selembar uang pecahan dua puluh ribu. Tidak terlintas di otaknya dengan uang sejumlah itu dapat membelikan baju baru kepada ketiga anaknya. Ia masih mengharapkan keajaiban dan mendapatkan uang lebih ketika nanti mengantar kembali konsumen tersebut.

                Kembali termenung Bang Sat di bawah bulan sabit yang kini tampak semakin runcing menyobek hatinya. Ia merasa bosan dan hampa dalam penantiannya. Untuk mengisi kekosongan tersebut ia mengeluarkan kunci dari laci becaknya yang berada dekat jok becaknya. Ia tampak memutar-mutar mur dan baut dari becaknya. Perawatan standar dari sebuah becak agar kondisi becak tetap prima. Perawatan tersebut kini didominasi pemeriksaan atas roda becaknya.

Pada saat yang bersamaan ia pun berpikir bisa memiliki dompet yang tebal seperti yang dilihat dari pria yang tadi menumpang becaknya. Tersirat di benaknya bahwa dengan uang yang banyak, ia tentu tak perlu pusing untuk menghadapi perayaan lebaran berisi belanja baju baru dan tetek bengek lainnya. Ia tahu hidup tidak pernah adil. Di saat orang dengan mudah membelanjakan uangnya untuk menikmati jasa prostitusi, ia menderita dan berkekurangan hanya untuk membelanjakan anaknya beberapa potong baju baru.

Hidup tak pernah adil tepat saat ia tidak mendapatkan kabar dari istrinya di negeri nun jauh di sana. Padahal yang ia bayangkan adalah bahwa setelah menikah ia bisa hidup di desa dengan tenteram, tapi apa daya di desa pun ia berkekurangan dan tidak mendapat upah yang cukup kalau hanya menjadi sekadar buruh tani. Ia pun berusaha mengubah nasibnya dengan merantau ke kota, tapi apa yang didapatkannya tidak lebih baik dibandingkan tetap tinggal di desa.

bagian 3

LEBARAN BANGSAT (bagian 1)

                Termenung Bang Sat di atas kursi penumpang becaknya sendiri. Sudah sehari penuh ia belum mendapatkan penumpang sama sekali. Belum pula ia pulang ke rumah. Tak bisa menahan malu karena tak mampu memenuhi keinginan ketiga anaknya yang ingin merayakan lebaran seperti orang-orang  pada umumnya.   Sebuah permintaan sederhana padahal. Anak-anaknya hanya ingin dibelikan baju baru agar lebaran benar-benar bisa dirayakan. Bagi anak-anaknya lebaran adalah tentang baju baru. Euforia itu masih belum bisa dipenuhi oleh Bang Sat hingga H-3 sebelum lebaran.

                Hati yang gusar akhirnya membawa Bang Sat mengayuh becaknya berkeliling. Baginya, menunggu bukan lagi sebuah opsi, ia harus menjemput bola dan mencari penumpang, bukan lagi hanya terus-menerus menunggu. Ia pun mengarahkan becaknya menuju pusat keramaian, mengharapkan ada beberapa orang yang lelah dan memutuskan pulang menggunakan jasanya. Sesampainya di pusat keramaian, Bang Sat tidak hanya diam, bermodal suaranya yang sumbang dan cempreng ia pun menawarkan jasanya kepada orang-orang, tapi sayang, tak ada satu pun yang berminat pada dirinya.

                Semakin lama ia berusaha, bukan penumpang yang ia dapatkan, namun rasa sedih yang semakin menumpuk akibat melihat orang-orang berbelanja baju baru untuk mereka masing-masing. Ia membayang dirinya bisa berada di tengah orang-orang tersebut, menawar barang dan melakukan transaksi jual beli kemudian. Semangat untuk membahagiakan anaknya kalah oleh rasa putus asa yang kini memayungi dirinya. Hati yang remuk tidak bisa membuatnya bertahan lebih lama. Ia pun memutuskan pergi ke tempat biasa ia mencari uang sampingan.

                Jalan Nangka tujuannya. Lokasi prostitusi yang dipaksa tidak beroperasi selama sebulan penuh ini berada dalam keadaan sangat gelap, dingin dan lembab. Bang Sat mencoba bersembunyi dari kehidupan di balik bayangan bangunan-bangunan yang biasa penuh dengan lenguh, pengap dengan keringat, bunyi derit ranjang yang tertimpa bara birahi. Di balik gulita ia mengucurkan air mata. Terisak-isak, menggerutu pada tuhannya. Ia mengeluh tentang kebijakan di bulan puasa yang membuat salah satu pintu rejekinya kini justru tertutup.

                Pada hari biasa di luar bulan puasa, ia adalah calo bagi para manusia yang ingin membeli jasa kemaluan manusia lainnya. Namun, kini ia tidak bisa mendapatkan uang lebih untuk kehidupannya dan anak-anaknya. Rejeki lain yang bisa ia harapkan kini hanya berupa welas asih dari orang-orang yang memandangnya sebagai orang miskin yang patut diberi sedekah atas kelebihan harta mereka. Namun, pintu rejeki itu tak bisa ia harapkan sepenuhnya, karena ia tidak bisa mengusahakan sendiri. Ia harus betul-betul menunggu di dalam ketidak pastian atas jumlah uang dan barang yang akan diterimanya. Sedangkan bila ia menjadi calo di sini, dalam semalam ia bisa mendapatkan sesedikitnya uang sejumlah seratus ribu rupiah untuk dibawa pulang. Dan dengan jumlah itu ia bisa memutar hidupnya untuk terus menjalani hari esok.

                “Bang, ngapain di sini?” dalam lautan kesedihan, tiba-tiba seorang wanita membuyarkan ratapan Bang Sat.

                Bang Sat terkejut dan segera menghapus air matanya. Ia menoleh dan mencoba mengenali wajah wanita yang menegurnya. Dengan intensitas cahaya yang sangat rendah di tempat itu, wajah wanita itu sebagian gelap.

                “Bang Sat. Ini Kim. Bukannya pulang, malah gelap-gelapan di sini.” Wanita tersebut menerangi dirinya dengan korek api, sehingga tampak wajahnya di hadapan Bang Sat.

                Kim adalah salah satu pekerja seks komersial yang berdiam di Jalan Nangka ini. Ia merupakan salah satu idola para konsumen. Kim dan Bang Sat terbilang sudah cukup akrab, karena seringkali konsumen diantarkan oleh Bang Sat kepada Kim langsung namun konsumen tersebut tidak memberi uang tip kepada Bang Sat. Bang Sat yang lugu dan polos tidak lihai bernegosiasi dan meminta uang tip, maka dari itu, Kim yang kasihan terhadap Bang Sat sering meminta para konsumen untuk memberi uang tip kepada Bang Sat sebelum lanjut menuju transaksi utama. Karena kejadian sering dibantu oleh Kim, akhirnya mereka berdua pun sering mengobrol di kala ada kesempatan.

                “Eh, Neng Kim, kirain siapa. Ngagetin aja. Iya nih, Abang ga tau harus ke mana lagi. Udah jadi kebiasaan Abang kali ya, kalau malem ke sini.”

                “Kita kan sebulan tutup, Bang. Pulang kek. Liburan dulu sebulan. Ketemu anak-anak, mumpung lagi musim libur juga.”

                “Ah, Neng. Jangan ingetin Abang sama anak-anak Abang. Anak-anak juga paling lagi main sama temen-temennya.”

                “Lah, Bang. Ayah macem apaan sih kayak gini? Keluyuran malem-malem pas bulan suci di tempat begini. Abang kan orang baik-baik. Mending pulang deh.”

                “Abang lagi sedih, Neng. Malu Abang kalau pulang. Abang janji sama anak-anak pulang bawain baju baru buat mereka, biar mereka bisa ngerayain lebaran kayak temen-temennya. Tapi, abang belum dapet uang dari pagi. Abang ga tahu harus ke mana lagi. Jadinya, ya abang ke sini. Neng sendiri ngapain ke sini? Sendiri, Neng?”

                Kim mengeluarkan sebatang rokok dari saku jaketnya. Membakarnya dan menghisapnya ringan. “Ada temen-temen di belakang, Bang. Kim ke sini, ya nyari duit Bang. Kim kan nyari nafkah dari sini doang. Kalau ga kayak gini ya Kim ga bisa makan. Lagian, Kim juga nyari duit sama kayak Abang dan anak-anak Abang. Mau ngerayain lebaran, biar kayak orang-orang. Malu lah, Bang, kalau Kim ketemu keponakan ga ngasih amplop. Entar disangkanya pelit atau parah-parahnya ya dipikir ga punya duit.”

                “Tadi katanya nyuruh puiang gara-gara di sini sedang ga operasional, tapi kok masih aja mangkal di sini, Neng? Abang bingung.”

                “Abang orang baru sih di sini. Ini bulan puasa pertama Abang di sini. Jadi memang kita secara resmi ga operasional, Bang, tapi kita diem-diem aja di jalanan gelap-gelap gini dengan penerangan seadanya. Kalau si Bos memang ngeliburin, tapi ya saya kalau libur makan dari mana, Bang. Calo-calo kayak Abang yang orang lama juga ngerti. Jadi mereka emang sebulan ini nyari duitnya di tempat lain. Biar ga keliatan rame juga di sini, kalau keliatan rame nanti kita kena gerebek. Konsumen aja yang mampir ke sini langsung nyari dan kami nawarin diri ke orang yang lewat di depan kami. Paling selain kami, ada preman doang yang ngawasin di sini, takut ada kejadian apa-apa. Tiap tahun kami kayak gini, Bang. Jadi jangan heran.”

                “Masa sama sekali ga ketauan orang yang berwenang?”

                “Ya, mereka tau Bang. Orang mereka juga ada yang dateng ke sini, nyari kita-kita juga. Bosen lah di rumah, ga tahan lah, kangen lah. Macem-macem alesan mereka. Ya, mereka oknum aja, jadi mereka juga diem-diem aja. Asal sama-sama senang. Mereka puas, kami dapet duit. Udah, adil kan?”

bagian 2

bagian 3

Repot-repot Memanggang Kopi, Harus Banget, Ya?

Menurut beberapa catatan, tanaman kopi ditemukan pertama kali di tanah Ethiopia, oleh kambing-kambing yang mengunyah buah ceri kopi kemudian karena menelan buah tersebut menjadi lebih aktif dan hal tersebut kebetulan diamati oleh sang penggembala. “Buah ajaib!”, mungkin kata itu yang keluar dari sang penggembala kala melihat sang kambing memakan buah tersebut dan akhirnya ia mencobanya sendiri. Ia merasa menjadi seperti kambing! Wow! Bukan badan dan baunya tapi, jadi lebih segerrrr. Kira-kiranya sih begitu.

Sejarah kemudian mencatat, bahwa tanaman kopi itu akhirnya menyebar ke jazirah Arab, kawin dengan budaya masyarakat di Arab yang berisi mayoritas orang-orang beragama Islam dan beberapa di antaranya menganut paham sufisme. Pemetikan fungsi dari segelas kopi bagi budaya tersebut digunakan sebagai sebuah stimulan untuk tetap terjaga pada malam hari yang diisi dengan kegiatan spiritual. Selanjutnya dalam banyak catatan, cerita itu berlanjut kepada penyebarannya yang mengarah ke daerah Kekaisaran Ottoman dan dipopulerkan kemudian ke benua sebrang, yaitu Eropa.

Segelas kopi dinikmati dengan warna cairan yang hitam, tidak seperti warna buah aslinya. Bila kita bayangkan buah jeruk dan produk turunannya berupa segelas sari jeruk, maka ada kemiripan warna antara produk asal dan produk turunannya. Namun, berbeda dengan kopi, segelas kopi tidak berwarna serupa dengan produk mentahnya.

Kenapa demikian? Hal ini disebabkan oleh proses yang dialami si bahan mentah alias si biji kopi itu sendiri sebelum diproses ke dalam minuman. Proses tersebut adalah proses pemanggangan atau awam disebut dengan istilah roasting.

Tapi ada satu pertanyaan yang sebenarnya belum saya dapatkan jawabannya dengan tuntas. Kenapa masyarakat pada sekitar abad 15 dan 16 itu terpikir untuk memanggangnya terlebih dahulu sebelum menyesapnya dalam sebuah gelas? Ada satu missing link yang tidak banyak dicantumkan dalam beberapa sumber bacaan tersebut.

Pertanyaan ini sempat saya ajukan pada beberapa orang dan hasilnya memang tidak memuaskan. Jawaban yang saya dapat kala melontarkan wacana diskusi itu terjawab mentah dengan poin-poin seperti ‘meningkatkan cita rasa’, ‘mematangkan komponen-komponen yang terdapat di dalamnya’,  dan lain sebagainya. Tentunya jawaban itu masuk akal, dengan catatan kerangka berpikir dan hipotesis itu digunakan di zaman sekarang. Namun bila kerangka berpikir itu diaplikasikan pada zaman dahulu tentunya menjadi sebuah hal yang tidak relevan.

Beberapa poin yang bagi saya menjadi tidak logis adalah :

  1. Pada dasarnya manusia itu ingin hal yang mudah dan memudahkan. Contohnya adalah, di zaman kiwari orang malas antre, malas masak dan malas keluar rumah untuk mendapatkan makanan. Solusinya adalah mereka memesan makanan tersebut melalui aplikasi ojek daring untuk mengantarkan makanan mereka langsung ke rumahnya. Itu mudah dan tak mau ambil pusing. Mereka tidak keluar rumah, tapi sudah bisa makan tanpa memasak.
    Selanjutnya kalau memang tujuan mereka meminum kopi untuk mendapatkan manfaat dari si kopi itu sendiri, tentunya sudah cukup mereka memakan buahnya saja, seperti cerita kambing yang disinggung di awal tulisan. Dengan tahapan memanggang baru menyeduhnya, tentu itu bukan suatu hal yang masuk kategori mudah. Perlu sebuah upaya lebih untuk ‘hanya’ menikmati segelas kopi dan mendapat manfaat dari si kopi itu.
  2. Kenapa mereka mesti memanggang biji kopinya saja? Pertanyaan lanjutan ini pun bagi saya belum terjawab dengan tuntas, karena bila mengamati si kambing, kambing itu memakan buahnya secara utuh. Mereka tidak memilah-milah dari buah tersebut mana yang masuk kategori daging buah, kulit buah, atau biji buah. Mereka melahap semuanya, iya, kan? Bila memang mereka ingin memproses bahan mentah tersebut, padahal en toch ya langsung saja panggang sama buah-buahnya, tidak perlu dipisah-pisah bijinya. Dasar makhluk-makhluk pemilih.
  3. Setelah selesai proses pemanggangan itu, kenapa kopi yang telah dipanggang harus digiling terlebih dahulu sebelum dimasak dengan air? Untuk meningkatkan proses ekstraksi kopi, gitu? Wow… wow… wow… Orang dulu mana paham beginian. (Eh, iya ga sih?) di saat kopi saja sempat dilarang karena efek minumannya tidak bisa dijabarkan secara ilmiah oleh para ilmuwan, tentu poin ekstraksi lagi-lagi tidak bisa kita jadikan sebagai kerangka berpikir untuk digunakan pada zaman tersebut.
    Poko’e pada masanya dulu ya, kopi malah sempat dilarang karena warna gelap cairannya serupa minuman anggur yang memabukan, dan memberi sensasi “tinggi”. Tidak bisa dibuktikan kalau kopi itu minuman yang aman dan memberi benefit alias fungsional untuk dikonsumsi oleh tubuh.
  4. Dalam proses pembuatannya, kenapa kopi pada zaman awal perkembangannya itu harus direbus? Mungkin sekarang kita mengenal teknik penyeduhan paling sederhana berupa tubruk. Proses yang hanya menuangkan air mendidih ke dalam gilingan kopi. Kalau ada proses sederhana seperti itu, untuk menyambung poin nomer 1, tentunya hal itu akan lebih banyak digunakan pada zaman dahulu dibandingkan dengan cara merebus kopi bersama airnya sekalian.

 

Sudah cukup bagian pertanyaannya, sekarang sedikit demi sedikit saya mulai mendapatkan jawabannya. Dengan catatan, narasi ini sangat terbuka untuk dikritisi dan didiskusikan. (Untuk sumber materi, sementara saya belum bisa mencantumkannya satu per satu. :v Damai, kakak-kakak sekalian!)

Sementara saya baru mendapatkan sedikit tirai terbuka pada kegelapan di poin nomer 1 dan 4. Alasan biji kopi itu harus dipanggang terlebih dahulu itu, saya dapatkan ternyata akibat stigma masyarakat pada zaman dahulu terhadap bahan makanan.

Pertama, saya jelaskan kalau makanan bisa dikategorikan dalam 3 kelompok, yaitu makanan mentah, matang, dan busuk. Dalam kategori makanan mentah, makanan tersebut bisa dikonsumsi setelah melalui proses sederhana seperti memetik, mencuci, hingga memotong. Kegiatan tersebut bisa diaplikasikan pada buah dan sayur. Kategori makanan matang adalah, bahan yang telah melalui proses pemanggangan, pembakaran, atau perebusan. Kategori makanan bususk adalah jenis bahan dari sisa makanan yang sudah tidak bisa dimakan lagi.

Stigma yang saya singgung sebelumnya berkaitan dengan proses makanan matang. Jenis bahan yang mengalami proses pemanggangan, pembakaran dan perebusan ternyata pada zaman dahulu dikategorikan sebagai makanan atau minuman yang lebih beradab dibandingkan dengan jenis bahan yang tidak mengalami proses demikian. Dari hal tersebut saya menyimpulkan dengan perkembangan peradaban yang tengah terjadi di Jazirah Arab, masyarakat setempat mengusahakan bahan-bahan makanan untuk diproses dengan lebih beradab, maka terjadilah sebuah upaya pemanggangan dari biji kopi. Dan proses tersebut berkaitan dengan segmen peminumnya. Peminum kopi pada masa itu bisa dikatakan sebagai orang beradab atau dalam kata lain, lebih maju dalam hal cara berpikir serta spiritual, hingga kedudukan mereka dianggap lebih tinggi dalam strata sosial yang melekat pada identitas mereka.

Begitu juga dengan proses pembuatan minuman kopi itu sendiri yang pada awal mulanya hanya mengenal sedikit metode. Metode yang digunakan tersebut adalah metode perebusan. Di mana kopi yang sudah digiling/ditumbuk dimasukkan ke dalam air, lalu dipanaskan secara bersamaan di atas tungku pemanas. Metode ini biasa dinamakan sebagai metode ‘turkish coffee‘. Kenapa dinamakan turkish? Nanti kapan-kapan kita diskusikan di tulisan lainnya.

Dalam metode perebusan tersebut, saya awalnya menganggap bahwa metode pembuatan kopi ini mengadaptasi pembuatan masakan lain bernama sup. Menu masakan yang didominasi air, baru kemudian bahan-bahan lainnya. Entah ada keterkaitan apa antara sup dan kopi, namun hal itu saya rasa hanya karena kita tidak bisa melepaskan stigma masyarakat era tersebut tentang bagaimana manusia beradab harus mengonsumsi makanannya.

Setelah metode itu dilakukan selama ratusan tahun, barulah berkembang variasi metode lain dalam penyeduhan kopi yang dapat menghasilkan cita rasa yang berbeda-beda pula. Seiring perkembangan variasi cara penyeduhan kopi, berkembang pula ilmu pengetahuan dan penelitian yang mengungkapkan manfaat pemanggangan dan pemasakan kopi dengan cara yang sesuai dengan keinginan untuk mengeluarkan potensi terbaik cita rasa yang dimiliki oleh kopi itu sendiri. Bahkan, kita juga bisa mengatur intensitas kadar kafein dari proses yang bersinggungan dengan pemanggangan kopi.

Sementara sekian dulu. Makanan tidak pernah hanya sekadar urusan perut dan lidah. Lebih dari itu, makanan selalu berkaitan erat dengan sejarah dan kebudayaan. Itu menjadi sisi menarik yang jarang diangkat sebagai sebuah topik perbincangan. Begitu pun halnya kopi, yang sangat erat dengan sejarah perkembangan peradaban manusia. Bila tidak pernah ada komoditas buah kopi di dunia ini, mungkin sebuah perbincangan setara tanpa memandang kasta dalam satu meja hanya menjadi sebuah angan belaka.

273.816.747,64 Fakta Menarik Meminum Kopi yang Tidak Layak Kamu Ketahui

Meminum kopi menjadi sebuah kebutuhan di zaman serba cepat ini. Menjamurnya kedai kopi atau coffee shop di kota-kota besar tumbuh seirama dengan meningkat pula peminum kopi, baik yang bersifat coffee to go atau sebagai tempat nongkrong dan bercengkerama bersama sejawat dan kerabat.

Kopi sendiri bisa dijadikan media para peminumnya untuk mendapatkan khasiat yang terkandung di dalamnya. Bisa sebagai pemuas dahaga, stimulan untuk terjaga, atau memenuhi candunya terhadap zat kafein. Tapi masih banyak fakta menarik terkait kopi yang belum kamu ketahui. Cekidot.

  • Kopi bisa membuat kamu kaya
    Wah? Kok bisa? Inilah fakta menarik yang tidak kamu duga. Tidak masalah kopi apa yang kamu minum. Entah itu arabika atau robusta, baik dari yang berbentuk biji panggang atau yang sudah berbentuk kopi instan, bagaimanapun metode seduhnya kopi bisa membuat kamu kaya, kalau kamu meminum kopi sambil kerja. Karena dari kerja itu kamu digaji. Bisa juga kamu meminumnya sambil bertemu dengan rekan bisnis yang bisa diajak kerja sama untuk mengembangkan usaha yang sedang kamu jalani. Kekayaan kamu sedikit demi sedikit jelas akan bertambah dengan kegiatan seperti itu.

 

  • Meningkatkan wawasan dan kepintaran
    Kandungan apa di dalam kopi yang bisa membuat kita menjadi pintar dan cerdas? Jawabannya adalah saat kamu meminum kopi diisi dengan membaca buku atau berdiskusi bisa membuat kamu menjadi orang lebih pintar dari sebelumnya. Satu hal yang perlu dicatat, kamu harus mengosongkan dulu “gelas” kamu sebelum kamu siap berdiskusi dan membaca. Setidaknya bila tidak dikosongkan sepenuhnya, buat ia setengah kosong. Karena bila tidak, kamu itu angkuh. Angkuh tidak diajarkan sejak pelajaran PPKn untuk dilakukan. Karena akan membawa pengaruh buruk ke kehidupan kamu.

 

  • Membuat bahagia
    Poin ini mungkin sudah banyak yang bahas di artikel lain yang sejenis. Tapi mereka tidak membahas melalui hal-hal yang terlihat secara kasat mata. Banyak dari artikel tersebut menjelaskan kebahagiaan yang didapat ketika meminum segelas kopi didapat dari zat-zat yang terkandung di dalamnya. Itu dia masalahnya. Kita sebagai peminum kopi partikelir, tidak bisa membuktikannya secara langsung, atau dengan kata lain kita tidak bisa menyaksikan zat itu melalui mata telanjang kita bekerja di dalam tubuh kita. Kalau kamu tidak bisa melihat langsung dengan mata kepalamu sendiri, maka apakah kamu bisa langsung percaya? Ayo coba ragukan semua kebohongan yang berdalih resmi dari semua laporan penelitian yang telah dipublikasi. Hal yang sebenarnya membuat kamu bahagia dari meminum kopi itu berkaitan dengan beberapa poin yang telah disebut sebelumnya di artikel ini. Bahagia itu didapat ketika kamu bisa bertambah kaya atau meningkat wawasannya setelah meminum kopi. Siapa yang bertambah kaya namun tidak bahagia? Ga ada dong, jelas. Kecuali orang itu sudah tambah kaya tapi justru tidak bisa menikmati harta kekayaannya sendiri.

 

  • Melepaskan diri dari status jomlo
    Nah, ini dia yang bakal bikin kamu penasaran setengah hidup. Kok bisa dari minum kopi doang bisa tidak jomlo lagi? Ini hanya sebuah puncak gunung es saja sobat insani yang aku kasihani. Ini adalah salah satu produk akhir dari beberapa poin artikel yang panjangnya amit-amit ini. Setelah meminum kopi kamu akan bertambah kaya, meningkat kecerdasan dan kepintarannya, lalu kamu bahagia. Dari poin-poin tersebut tentunya kamu akan memiliki daya tarik yang luar biasa di depan gebetan kamu.  Itu nilai lebih dan daya tawar yang bisa kamu berikan bagi siapapun lawan jenis yang kamu incar. Eits! tapi ingat, hal itu akan menjadi sebuah kecuma-cumaan belaka kalau tidak didukung oleh sikap percaya diri. Ini harus dilatih dan dipupuk seiring berjalannya waktu. Dan bukan dari minum kopi jawabannya. Dari mana coba? Dari tadi. Wlee… jayus ya. Jangan andalkan dari minum kopi saja, coba cara lain seperti datang ke kedai kopi, berdiam di sana, dan bangun interaksi dengan orang sekitar. Latihan tersebut akan membuat rasa percaya diri kamu meningkat sedikit demi sedikit. Penulis sendiri sudah membuktikannya secara langsung dengan sering kali datang ke kedai kopi favorit penulis yang berada di Kota Bandung, bernama Skola Coffee. Orang di sana ramah-ramah, jadi bisa melatih keterbukaan dan sikap percaya diri penulis ke lingkungan lainnya. Coba saja datang dulu berkunjung ke sana. Siapa tahu kita bisa belajar bareng-bareng.

Sekian dulu tulisan kali ini. Capek habis nulis jutaan poin untuk satu artikel doang. Tunggu saja artikel lain terkait kopi yang layak tidak kamu ketahui selanjutnya.

Salam terbaik bagi kita semua. Muach.

P.S. Tulisan ini tidak berbayar.